BERAU TERKINI — Dampak krisis air bersih yang melanda Pulau Maratua memicu desakan kuat dari tingkat bawah.
Pemerintah Kampung Payung-Payung, Kecamatan Maratua, menaruh harapan besar agar proyek pembangunan embung di wilayah mereka bisa segera dirampungkan dan difungsikan pemerintah daerah.
Kepala Kampung Payung-Payung, Rico, menjelaskan, kesulitan mendapatkan akses air bersih ini sebenarnya sudah terjadi selama bertahun-tahun.
Masalah mendasar tersebut seolah menjadi momok klasik yang selalu timbul dan tenggelam setiap tahunnya, terutama saat musim kemarau mulai membayangi pulau terluar itu.
Beruntung, selama masa sulit ini, Kampung Teluk Harapan memiliki fasilitas sumur bor yang berfungsi dengan baik.

Sehingga, sisa air bakunya masih bisa ikut dimanfaatkan oleh warga dari kampung lain untuk menyambung hidup.
Namun, untuk kebutuhan harian yang mendesak, sebagian besar masyarakat terpaksa harus merogoh kocek cukup dalam demi mendapatkan pasokan air.
“Masyarakat itu kalau saya lihat ya masih sanggup membeli air yang Rp80-100 ribu per tandon itu,” ujar Rico kepada Berauterkini, Sabtu (23/5/2026).
Terkait keberadaan proyek embung yang dibangun pemerintah daerah di kampungnya, Rico mengaku tidak begitu mengikuti perkembangannya secara langsung.
Sehingga, pihaknya tidak mengetahui secara pasti apakah progres fisik embung sudah selesai 100 persen atau memang masih membutuhkan pengerjaan tambahan di lapangan.
Namun, berdasarkan informasi informal yang ia terima dari jajaran Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Berau, proyek embung tersebut memang belum selesai sepenuhnya akibat terbentur masalah pendanaan.
Embung itu dinilai masih membutuhkan kelengkapan fasilitas penunjang di dalamnya yang hingga kini belum rampung digarap.
“Saya tidak begitu mengikuti dua kegiatan ini, tapi yang saya tahu dari teman-teman PUPR itu pendanaannya itu belum didanai, sehingga embung itu belum selesai sepenuhnya terbangun,” tegas Rico.
Rico sangat berharap agar instansi teknis terkait segera mengambil langkah cepat untuk menyelesaikan sisa pengerjaan embung.
Fasilitas modern ini dinilai menjadi satu-satunya harapan sebagai sumber cadangan air bagi masa depan seluruh masyarakat di Pulau Maratua.
“Untuk embungnya sendiri harapan saya pribadi, tolong itu diselesaikan dengan baik, sehingga dana yang digelontorkan berapa miliar itu berfungsi juga dimanfaatkan untuk masyarakat Maratua,” pungkas Rico. (*)
