BERAU TERKINI – Kepala BGN Dadan Hindayana buka suara usai dikritik IDAI soal susu formula di MBG.

Kepala BGN Dadan Hindayana memberi penjelasan soal susu formula dalam MBG.

Menurut Dadan Hindayana, program MBG tidak ditujukan untuk menggantikan pemberian air susu ibu atau ASI.

Dilansir laporan Kompas.com, susu formula yang diberikan dalam program MBG hanya untuk susu formula Lanjutan dan Formula Pertumbuhan.

“BGN tidak membuka opsi susu formula bayi karena ingin mengutamakan ASI. Jadi mohon dicermati dengan lebih saksama,” kata Dadan Hindayana dikutip dari laporan Kompas.com.

Siswa kelas 2 MI Al-Ihsan saat sedang menikmati MBG
Siswa kelas 2 MI Al-Ihsan saat sedang menikmati MBG (Nadya Zahira BT)

“BGN sekali lagi tidak membuka opsi Susu Formula Bayi, hanya Formula Lanjutan dan Pertumbuhan,” tambahnya.

Lebih jauh, Dadan Hindayana menyebut pemberian susu formula dalam MBG perlu rekomendasi bidan atau puskesmas setempat.

“Minimal bidan atau puskesmas jika ASI tidak cukup untuk mendukung pertumbuhan,” katanya.

Kritik IDAI

Sebelumnya diberitakan, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengkritik penggunaan susu formula dalam program MBG.

Program makan bergizi gratis atau MBG turut menyasar anak bayi dan balita.

Dalam program MBG untuk bayi dan balita itu direncanakan penggunaan susu formula.

Langkah BGN untuk memberikan susu formula dalam MBG kepada anak bayi dan balita dikritik oleh IDAI.

IDAI menilai langkah itu tak tepat, sebab air susu ibu atau ASI lebih tepat diberikan kepada bayi dibandingkan susu formula.

Kritik IDAI itu disampaikan oleh Satuan Tugas ASI dan UKK Nutrisi Penyakit Metabolik IDAI melalui surat terbuka.

Adapun surat terbuka itu ditujukan kepada Kepala BGN Dadan Hindayana, Wakil Kepala BGN Nanik S Deyang, Lodewyk Pusung dan Sony Sonjaya.

“Pak Dadan, Bu Nanik, Pak Lodewyk, Pak Sony, kami yakin Bapak dan Ibu ingin setiap bayi dan anak Indonesia terpenuhi kebutuhan gizinya,” tulis surat terbuka IDAI.

“Kebijakan distribusi susu formula massal yang berjalan hari ini, tanpa pemeriksaan dokter dan indikasi medis, berisiko membuat ibu-ibu Indonesia berhenti menyusui. Dan begitu seorang ibu berhenti menyusui, hampir tidak ada jalan untuk kembali,” tambahnya.

Menu MBG Ramadan yang diterima siswa SMKN 1 Tanjung Redeb, Senin (23/2/2026). (Aidil/BT)
Menu MBG Ramadan yang diterima siswa SMKN 1 Tanjung Redeb, Senin (23/2/2026). (Aidil/BT)

IDAI mengingatkan bahwa ASI tidak sekadar makanan namun memberikan manfaat besar bagi tumbuh kembang anak.

Menurutnya penggantian ASI dengan susu formula bukanlah kebijakan yang tepat.

“Pak Dadan dan jajaran, ASI bukan sekadar makanan. Di dalamnya ada ratusan hingga ribuan komponen bioaktif yang bekerja melindungi bayi. Zat kekebalan tubuh dari Ibu. Bakteri baik untuk usus. Sinyal pertumbuhan otak,” tulisnya.

“Formula adalah yang terbaik yang bisa dibuat manusia hari ini. Tapi tidak ada satu pun dari komponen ASI diatas yang bisa digantikan olehnya. Anak-anak kita butuh ASI. Jangan sampai kebijakan kita hari ini membuatnya kehilangan sesuatu yang penting,” tegasnya.

Lebih jauh, IDAI mengingatkan bahwa penggunaan susu formula hanya boleh diberikan oleh rekomendasi dokter.

Di mana hal itu sesuai dengan regulasi dan aturan yang berlaku hari ini.

“Pak Dadan dan jajaran, Ini bukan hanya pendapat kami. UU No. 17 tahun 2023 dan PP No. 28 tahun 2024 sudah mengatur dengan jelas:
‘Formula hanya boleh diberikan atas rekomendasi dokter dan indikasi medis'” katanya.

“Kami berharap BGN segera memperbaiki kebijakannya ke arah yang benar,” harapnya.