BERAU TERKINI — Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kabupaten Berau merilis catatan resmi mengenai akumulasi peristiwa kebakaran yang melanda hingga pertengahan Mei 2026.
Selain merangkum data kejadian, Disdamkarmat Berau juga memetakan wilayah permukiman perkotaan yang rawan kebakaran serta sebaran zona merah potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kepala Disdamkarmat Berau, Rakhmadi Pasarakan, menjelaskan, sepanjang Januari tercatat telah terjadi sebanyak 11 kali peristiwa kebakaran.
Tren tersebut sempat menurun dengan masing-masing 3 kejadian pada Februari dan Maret, namun kembali melonjak menjadi 8 kasus di April, serta disusul 4 kasus pada Mei.
Jika diakumulasikan secara keseluruhan, total musibah kebakaran yang melanda Bumi Batiwakkal hingga hari ini telah menembus angka 29 kasus.

Di samping menjinakkan si jago merah, personel Damkar juga disibukkan dengan operasi penyelamatan (rescue) berskala besar di tengah pemukiman.
Operasi non-kebakaran tersebut meliputi evakuasi gangguan sarang tawon, penangkapan ular berbisa, hingga evakuasi satwa liar berbahaya seperti buaya.
Tercatat ada total 105 operasi penyelamatan yang berhasil dieksekusi oleh tim rescue hingga Mei tahun ini.
Rincian pergerakan personel dimulai dari 21 penyelamatan di Januari, 7 operasi pada Februari, 15 penanganan di Maret.
April menjadi bulan tersibuk dengan rekor 38 penyelamatan, disusul 24 aksi pada Mei.
“Bulan Mei sampai hari ini itu tadi ya, tapi untuk penyelamatan masih ada nambah lagi, bergerak terus,” ungkap Rakhmadi kepada Berauterkini, Kamis (21/5/2026).
Mengenai pemicu utama, peristiwa kebakaran permukiman yang terjadi umumnya didominasi masalah hubungan arus pendek atau korsleting listrik.
Rakhmadi menilai faktor ini mencuat karena tingkat pemahaman dan kepedulian masyarakat terhadap aspek keamanan kelistrikan masih sangat minim.
Sesuai regulasi standar baku keamanan, jaringan instalasi listrik pada bangunan idealnya wajib diperiksa secara berkala minimal setiap 4 tahun sekali.
Disdamkarmat Berau sebenarnya sudah mulai menggencarkan sosialisasi kepada publik, terutama mengenai edukasi risiko penggunaan terminal listrik atau colokan yang melebihi kapasitas beban.
Kendati demikian, jangkauan sosialisasi diakui belum bisa menyasar seluruh lapisan warga secara meluas.
Hambatan ini terjadi karena cakupan materi edukasi keselamatan yang harus disampaikan tim pemadam tergolong sangat kompleks, mulai dari penanganan risiko kompor, penyimpanan bahan bakar minyak, hingga kebocoran tabung elpiji.
Agenda edukasi tatap muka kepada warga tersebut juga diakui belum bisa berjalan secara berkala atau intensif sepanjang tahun ini.
“Kami juga ada sosialisasi. Cuma karena ini terlalu banyak, bukan hanya itu, ada kompor, ada minyak, gas dan sebagainya,” urainya.
Mengenai peta mitigasi bencana, Disdamkarmat Berau saat ini masih mengacu pada basis data spasial lama untuk memproyeksikan potensi risiko.
Berdasarkan peta kerawanan tersebut, klaster terbesar untuk ancaman kebakaran permukiman masih terpusat di wilayah perkotaan, yaitu Kecamatan Tanjung Redeb, Gunung Tabur, Teluk Bayur, dan Sambaliung.
Sementara untuk peta sebaran kerawanan karhutla, pihaknya menetapkan status zona merah pada empat wilayah administrasi kecamatan.
Wilayah yang mendapatkan atensi penuh dan pengawasan ketat tersebut meliputi Kecamatan Segah, Tanjung Batu, Teluk Bayur, serta Kecamatan Tabalar.
“Zonasi-zonasi terbesar ini kalau untuk Kebakaran pemukiman pasti perkotaan. Untuk karhutla ada empat wilayah yang zonasi merah,” pungkasnya. (*)
