BERAU TERKINI — Rencana ambisius pengadaan Kereta Api Trans Kalimantan sepanjang 2.772 kilometer yang diproyeksikan menghubungkan Pontianak, Palangkaraya, hingga Samarinda kini seolah hilang ditelan bumi.

Proyek strategis yang diharapkan menjadi urat nadi transportasi baru di pulau borneo ini tidak lagi terdengar progresnya, memicu tanda tanya besar mengenai nasib keberlanjutannya.

Wakil Bupati Berau, Gamalis, mengenang kembali wacana besar ini sebenarnya sudah ada sejak masa kepemimpinan Gubernur Awang Faroek Ishak.

Keseriusan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur saat itu bahkan dibuktikan dengan mengirimkan putra-putri daerah untuk menempuh pendidikan perkeretaapian di Moskow, Rusia.

Gamalis sendiri mengaku menjadi saksi hidup atas upaya serius tersebut saat dirinya masih menjabat di legislatif.

“Saya termasuk salah satu orang yang waktu di DPR kemarin hadir di Moskow dalam rangka memberikan kepastian,” kenangnya.

Menurut Gamalis, perjuangan Awang Faroek dalam menjalin komunikasi dengan pihak Rusia seharusnya sudah membuahkan hasil nyata saat ini.

Apalagi, investasi sumber daya manusia melalui penyekolahan mahasiswa ke Rusia merupakan investasi besar yang menandakan kesiapan daerah.

Sinyal kesiapan infrastruktur dan fasilitas pendukung pun sebenarnya sudah dikirimkan sejak lama ke tingkat pusat.

“Karena kita sudah memberikan sinyal-sinyal elemen fasilitas dan segala macam,” singkatnya.

Meskipun progresnya terlihat stagnan, Gamalis mencoba untuk tetap optimis. 

Namun, ia tidak dapat menutupi rasa herannya mengapa rencana yang sudah dirancang sedemikian lama dan detail tersebut seolah-olah harus kembali ke titik nol.

Padahal, perencanaan jaringan rel kereta api di Kalimantan bukan lagi barang baru dan jejak perencanaannya sudah mencakup wilayah hingga ke Bontang.

“Tapi kalau melihat ini sudah berjalan terlalu lama, kok enggak jalan-jalan, kok baru dimulai lagi. Ini bukan sesuatu yang baru, ini sesuatu yang sangat lama terkait dengan jaringan rel kereta api Kalimantan, dulu kan sampai ke Bontang,” jelas Gamalis.

Kekecewaan Gamalis semakin menguat setelah mendengar pernyataan terbaru dari Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan yang menyebutkan proyek Trans Kalimantan masih dalam tahap kajian mendalam. 

Bagi Gamalis, fase kajian seharusnya sudah lewat sejak mediasi dilakukan di Moskow tahunan yang lalu.

Ia berharap proses yang ada saat ini benar-benar menuju pembangunan fisik dan bukan sekadar janji-janji kosong.

“Itu tentu sudah melewati kajian. Tidak apa-apa kalau memang harus ada kajian lagi. Ya mudah-mudahan kajian itu tidak lalu memberikan harapan-harapan saja kepada masyarakat Kalimantan Timur,” pungkasnya. (*)