BERAU TERKINI – Indonesia meningkatkan pengawasan guna mencegah penularan penyakit Hantavirus.

Terduga penyakit Hantavirus diduga tersebar di sejumlah negara.

Penyakit itu diketahui pertama kali merebak di kapal pesiar yakni MV Hondius yang berlayar di Samudera Atlantik.

Dalam pelayaran kapal pesiar itu setidaknya ada 7 kasus terkonfirmasi Hantavirus, 3 diantaranya menjadi korban meninggal dunia.

Kini dunia tengah mengantisipasi penularan Hantavirus, tak terkecuali Indonesia.

Budi Gunadi Sadikin. (Antara/Dhemas Reviyanto)

Dilansir laporan iNews, pihak Kemenkes menyiapkan sejumlah langkah guna mendeteksi dini penyebaran Hantavirus.

Menkes Budi Gunadi Sadikin mengatakan pihaknya menyiapkan alat rapid test dan pengetatan pengawasan guna mencegah terjadinya penularan di Indonesia.

“Ini virus yang lumayan berbahaya, jadi kami sudah koordinasi dengan WHO. Kami minta ke WHO untuk bisa lakukan screeningnya,” ucap Budi Gunadi Sadikin dikutip dari laporan iNews.

“Yang kami lakukan, mempersiapkan agar screening-nya kami punya, apakah itu dalam bentuk rapid test kayak COVID-19 dulu maupun reagen-reagen yang digunakan di mesin PCR,” ujarnya.

“Jadi sekarang kami masih fokus ke surveillance supaya kalau ada apa-apa, bisa cepat tahu,” tambahnya.

Meski demikian belum ada laporan mengenai kasus Hantavirus yang terkonfirmasi di Indonesia.

Kapal pesiar MV Hondius (cruisemapper.com)
Kapal pesiar MV Hondius (cruisemapper.com)

Merebak di Kapal Pesiar

Sebelumnya diberitakan, Organisasi kesehatan dunia atau WHO mengingatkan potensi penyebaran Hantavirus yang menjangkiti penumpang kapal pesiar.

Sejumlah penumpang di kapal pesiar MV Hondius dilaporkan terjangkiti penyakit Hantavirus.

Diketahui kapal pesiar MV Hondius sedang berlayar melintasi Samudera Atlantik dari Argentina menuju Cape Verde.

Setidaknya terdapat 7 kasus Hantavirus yang menjangkiti penumpang kapal pesiar MV Hondius.

Di mana dari 7 kasus tersebut, terkonfirmasi 3 orang meninggal dunia, 1 orang kritis dan 3 orang lainnya mengalami gejala ringan.

“Sejumlah penumpang kapal pesiar mengalami penyakit gangguan pernapasan,” tulis laman resmi WHO.

“Kapal pesiar itu mengangkut 147 penumpang dan kru, di mana hingga 4 Mei 2026, dilaporkan ada 7 kasus Hantavirus, dari 7 kasus itu, tiga orang meninggal, satu orang kritis dan tiga orang lainnya mengalami gejala ringan,” jelasnya.

WHO mengungkapkan gejala dari penyakit Hantavirus yakni demam, gangunggan pencernaan, pneumonia, hingga gangguang pernapasan akut.

Menurut WHO, Hantavirus merupakan penyakit zoonosis yang ditularkan dari tikus.

Meski wabah ini jarang terjadi namun bisa menjadi kasus yang mematikan.

“Hantavirus ditularkan oleh tikus yang terjangkit penyakit, meski kasus ini jarang terjadi namun akibatnya bisa mematikan,” lanjutnya.

Pihak WHO memastikan akan memonitor perkembangan kasus Hantavirus.

Adapun saat ini status epidemi Hantavirus masuk dalam kategori rendah.

“WHO terus menganalisa risiko kasus ini, dan kejadian wabah Hantavirus masuk dalam kategori rendah untuk menjadi pandemi,” jelasnya.

“Kami terus memantau situasi penularan dan risiko penyebaran Hantavirus,” ucpanya.