BERAU TERKINI – Terus meningkatnya kasus kebakaran di Kabupaten Berau sepanjang 2026 menjadi perhatian serius Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat).

Hingga memasuki Agustus, puluhan peristiwa kebakaran, baik kebakaran permukiman maupun kebakaran hutan dan lahan (karhutla), telah ditangani petugas.

Kondisi tersebut membuat Disdamkarmat Berau terus meningkatkan kesiapsiagaan dengan menerapkan layanan siaga selama 24 jam untuk memastikan setiap laporan kebakaran dapat segera ditangani.

Kepala Seksi Pemadaman Disdamkarmat Berau, Azkar Husairi, mengatakan, seluruh personel disiagakan setiap hari, terutama di wilayah Tanjung Redeb, yang memiliki tingkat kepadatan penduduk tinggi.

Kesiapsiagaan juga dilakukan di pos-pos pemadam yang berada di kecamatan, meski saat ini masih terkendala jumlah personel.

WhatsApp Image 2026 08 07 at 15.39.30 2

“Untuk kebakaran permukiman, kami selalu siaga 24 jam, khususnya di wilayah Tanjung Redeb dan sekitarnya. Begitu juga di kecamatan di tengah keterbatasan personel,” ujarnya, Jumat (7/8/2026).

Selain menangani kebakaran rumah dan bangunan, Disdamkarmat juga turut mendukung penanganan kebakaran hutan dan lahan bersama instansi terkait.

Keterlibatan tersebut merupakan tindak lanjut dari Instruksi Bupati Berau Nomor 100.3.4.2/389/Umum/2026 tentang perbantuan penanganan karhutla di wilayah kecamatan.

Azkar mengakui, meningkatnya frekuensi kebakaran membuat kebutuhan sumber daya juga semakin besar. 

Saat ini, pihaknya masih membutuhkan tambahan personel untuk mengisi pos-pos pemadam di kecamatan agar waktu respons terhadap kejadian dapat lebih cepat.

“Kami juga berharap adanya penambahan anggaran operasional, terutama untuk kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) armada pemadam dan biaya perawatan kendaraan,” jelasnya.

Menurutnya, dukungan tersebut sangat penting agar pelayanan tetap optimal di tengah tingginya intensitas kejadian kebakaran.

“Kami berharap pada anggaran perubahan nanti ada tambahan personel, terutama di pos-pos kecamatan,” katanya.

Dari sisi sarana dan prasarana, Azkar menilai peralatan pemadam yang dimiliki saat ini masih cukup memadai untuk mendukung operasi di lapangan. 

Namun, sebagian peralatan dan armada sudah memasuki usia yang perlu diremajakan agar tetap andal saat digunakan dalam kondisi darurat.

Berdasarkan hasil evaluasi Disdamkarmat, sekitar 80 persen kebakaran permukiman diduga dipicu arus pendek listrik, sedangkan sebagian lainnya disebabkan kelalaian penggunaan kompor gas.

“Sementara untuk kebakaran hutan dan lahan, rata-rata penyebabnya masih akibat ulah manusia, yakni sengaja dibakar,” jelasnya.

Dia juga mengatakan, untuk kebakaran di Jalan Milono yang terjadi beberapa hari lalu, areal tersebut merupakan kawasan padat pemukiman, sehingga memang perlu disediakan fasilitas hidran.

“Di sana sering terjadi kebakaran, dan selalu menghanguskan lebih dari satu bangunan. Harapannya, setiap kawasan pada pemukiman dilengkapi hidran agar memudahkan pemadaman,” paparnya.

Ia pun mengimbau masyarakat agar lebih waspada dengan rutin memeriksa instalasi listrik di rumah, memastikan penggunaan kompor gas sesuai standar keselamatan, serta tidak membuka lahan dengan cara dibakar, terutama di tengah musim kemarau yang meningkatkan risiko kebakaran.

“Peran masyarakat sangat penting untuk mencegah terjadinya kebakaran. Dengan kewaspadaan bersama, kita berharap jumlah kejadian kebakaran di Berau dapat ditekan,” pungkasnya. (*)