BERAU TERKINI – Operasional rumah sakit baru yang berlokasi di Jalan Sultan Agung kini semakin dekat.

Namun, dibalik persiapan tersebut, kepastian mengenai pemindahan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bujangga yang letaknya berdekatan dengan fasilitas kesehatan tersebut masih menjadi tanda tanya besar.

Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Berau menegaskan, relokasi TPA Bujangga sepenuhnya bergantung pada penyelesaian pembangunan TPA Pegat Bukur.

Kepala DLHK Berau, Mustakim Suharjana, menyatakan, pihaknya tidak mengetahui jadwal pasti pemindahan tersebut karena pengerjaan fisiknya berada di bawah kendali Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR).

“Itu PUPR yang bangun, lain DLHK, jadi untuk lebih jelasnya ke PUPR,” ujar Mustakim kepada Berauterkini, Jumat (20/2/2026).

Kepala DLHK, Berau, Mustakim Suharjana.
Kepala DLHK, Berau, Mustakim Suharjana.

Selama DPUPR belum merampungkan TPA Pegat Bukur, masyarakat masih harus tetap memanfaatkan TPA Bujangga. 

Sebagai langkah antisipasi agar lahan tidak cepat penuh, Mustakim menekankan perlunya pengurangan volume sampah melalui pemilahan barang-barang yang memiliki nilai ekonomi untuk diperjualbelikan kembali.

“Dipilah dari TPS-TPS, nanti kan kita baru rencana ini mau melanjutkan yang bank sampah hidup itu kan kerja sama dengan swasta,” ungkapnya. 

Ia menambahkan, proses pemilahan akan dimaksimalkan di TPS 3R. 

“Nanti sampah-sampah yang bernilai ekonomis kita kumpulkan, nanti Insya Allah ada yang beli,” sambungnya.

Persoalan lain yang menjadi perhatian adalah polusi udara. Limbah sampah organik yang dibiarkan menumpuk lebih dari tiga hari dipastikan akan menimbulkan aroma tidak sedap di sekitar TPA Bujangga.

Untuk mengatasi hal tersebut, DLHK menerapkan sistem control landfill, meskipun pengawasannya masih terkendala keterbatasan anggaran.

Foto udara RSUD Baru Tanjung Redeb di Jalan Sultan Agung. (Aidil/BT)
Foto udara RSUD Baru Tanjung Redeb di Jalan Sultan Agung. (Aidil/BT)

Proses penimbunan sampah dengan tanah ini direncanakan dilakukan paling cepat sebulan sekali untuk meminimalkan bau yang menyengat di sekitar area rumah sakit baru. 

Mustakim menjelaskan, teknik pelapisan tanah tersebut cukup efektif untuk meredam bau jika dipantau dari jarak tertentu.

“Jadi sampah kita lapisi tanah berlapis-lapis meminimalisir bau. Kalau kita dekat jarak 20 meter ya masih bau, tapi kalau dari Jalan Gatot Subroto kan sudah tidak bau di situ,” tutupnya. (*)