Dinas Perkebunan Berau terus melakukan pengembangan budidaya pertanian Kelapa dan Coklat sebagai komoditi sektor unggulan di Berau.

TANJUNG REDEB – Kepala Dinas Perkebunan (Kadisbun) Kabupaten Berau Litan Handini, mengungkapkan pertambangan masih yang terbesar menyumbang penerimaan negara, namun pihaknya mempersiapkan perkebunan untuk menggantikan sektor sumber daya alam (SDA).

Dalam penyampaian realisasi penerimaan pajak di Kabupaten Berau yang dilaksanakan Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Tanjung Redeb, sektor usaha Pertambangan dan Penggalian masih mengungguli kontribusi penerimana pajak secara keseluruhan di Kabupaten Berau.

Sektor usaha Pertambangan dan Penggalian sendiri merupakan Sumber Daya Alam yang tidak dapat terbarukan. Tentunya, Pemerintah Kabupaten Berau tidak bisa terus menerus bergantung pada sektor tersebut.

Selain sektor usaha Pertambangan dan Penggalian, sektor usaha Administrasi Pemerintahan menduduki posisi kedua. Jika sektor usaha Pertambangan dan Penggalian menyumbang pajak negara mencapai Rp 437.176.873.654, maka sektor usaha Administrasi Pemerintahan di posisi kedua menyumbang sebanyak Rp 190.843.985.639.

Menanggapi hal tersebut, Kadisbun Litan Handini, menyebut bahwa saat ini memang sektor pertambangan masih jadi yang pertama, namun dengan yakin dirinya menyebut dalam arti luas, sektor perkebunan disiapkan juga untuk mengantisipasi SDA tidak terbarukan.

“Dari arti luas ‘kan (perkebunan) nomor dua selain tambang. Memang akan menggantikan pertambangan kedepannya,” terangnya Senin (18/12/23)

Dua dari lima sektor unggulan di Dinas Perkebunan Berau adalah Kelapa Buah dan Cokelat. Lita menerangkan bahwa Kelapa Buah saat ini punga luasan lahan produksi mencapai 2.700 Hektare di Berau. Sehingga menempatkan pertanian Kelapa Buab menjadi yang terluas sebagai komoditas unggulan.

“Jadi kelapa salah satu komoditas unggulan,” tegasnya.

Dari luasan lahan yang cukup luas itu, Lita mengatakan bahwa sebagian besar memang masih bergantung pada Pertanian Kelapa Buah Warisan. Atau lebih mudahnya, pertanian sekarang mengandalkan tanaman kelapa yang sudah diwariskan secara turun temurun.

“Jadi memnag kelapa rakyat yang usianya sudah tua dan tanaman warisan,” terangnya.

Namun, sektor hilir pada produksi kelapa sudah terbentuk di masyarakat. Misalnya di Kecamatan Biduk-biduk terdapat produksi minyak kelapa, Virgin Coconut Oil (VCO), Sabun berbahan dasar kelapa serta olahan dari serabut kelapa.

“Sementara sektor hilirnya sudah berkembang yang digasilkan. Sehingga akhirnya kita perlu untuk mendorong itu,” paparnya.

Dirinya juga akan melakukan peremajaan pertanian kelapa dengan memberikan edukasi pertanian modern. Sebab, banyak keluhan yang diterima tentan kelapa-kelapa yang pohonnya sudah berusia tua.

Secara alami, kelapa-kelapa yang ada di Berau, semakin berumur maka pohonnya semakin tinggi. Hal ini yang menjadi keluhan petani di lapangan.

“Kita akan melakukan peremajaan kelapa tua. Keluhan mereka (petani), tidak mau kelapa tinggi,” ujarnya.

Sehingga selain keluhan pohon kelapa yang tinggi, pihaknya juga banyak melakukan pencarian terkait varietas terbaik kelapa. Misalnya, pohon tidak terlalu tinggi, usia penanaman hingga berbuah tidak lama dan kualitas kelapa tetap baik.

“Tentu kita berusaha mengikuti pertanian itu cepat berbuah dan itu yang sedang kami upayakan mencarikan jenis bibit yang cocok,” jelasnya.

Menurutnya, varietas kelapa tidak semuanya bisa cocok jika ditanam di Berau. Terdapat jenis kelapa yang dilihat di Balai Pengujian Standar Instrumen Tanaman Palma, Manado, Sulawesi Utara akan cocok jika ditanam di Berau.

“Tidak semua cocok, beberapa jenis di Manado di Balai Penelitian Kelapa ada varietas yang cocok dikembangkan dimana jenis kelapanya pendek dan cukup 2 tahun 6 bulan sudah berbuah, paling 10 meter saja tingginya,” terangnya.

Selain itu juga ada cokelat. Cokelat sendiri saat ini punya potensi yang menguntungkan. Namun, saat ini pihaknya tengah menguatkan petani-petani cokelat untuk bertahan menanamnya. Sebab, banyak terjadi perubahan lahan dari budidaya cokelat menjadi sawit.

“Sehingga upaya pertama kita memberikan edukasi agar konsisten, agar tidak beralih. Sambil berjuang terus,” ujarnya.

Saat ini sendiri, tak kurang dari 1003 Hektare luas lahan petani cokelat yang ada di Berau. Sehingga kita berharap luasannya semakin bertambah dan tidak berkurang. Tentunya, hal itu untuk menyambut potensi hilir yang saat ini sudah jelas.

“Sekarang kita punya luasan lahan 1003 Hektare. Ini harapan kita tidak kurang, bahkan baiknya tambah,” jelasnya.

Kita menjadi yakin, untuk mendorong semangat para petani menggarap cokelat. Sebab, pasar yang jelas, pembeli yang ada dan kualitas yang baik itulah yang dijadikan Lita sebagai keberanian mendorong petani cokelat di Berau.

“Sehingga, inilah saya perlu kolaborasi dengan berbagai pihak, baik antar OPD. Selain OPD juga kita harap dengan swasta,” ujarnya.

Cokelat Berau merupakan salah satu komoditas strategis diantara lima jenis, yaitu Sawit, Kelapa, Lada, Karet dan Cokelat itu sendiri.

Cokelat Berau senndiri sudah terkenal hingga mancanegara, sebab masuk dalam 8 besar Cacao Excelent ketika lomba di Swiss. Selain itu, Kakao Berau menduduki juara 2, lomba biji kakau fermentasi tingkat nasional.

“Dan juga berdasarkan uji pusat penelitian dan pengembangan Kakao di Jember, memang coklat berau punya ciri khas,” terangnya.

Dijelaskan, bahwa Cokelat Berau punya aroma dan rasa yang berbeda dengan tempat lain. Aroma Cokelat Berau lebih khas, cita rasanya memiliki rasa buahnya. Hal inilah yang menjadikan dirinya yakin pengembangan Cokelat Berau bisa melejit.

“Memang spesial, banyak juga permintaan dari luar yang belum mampu kita penuhi, karena produksi terbatas. Peluang ini yang mendorong saya berani kembangkan gagasan ini,” pungkasnya.

Data Grafis

Penerimaan pajak kepada negara di wilayah Kabupaten Berau melalui KPP Pratama Tanjung Redeb.

Penerimaan Bruto:

2022: Rp 658.738.480.251

2023: Rp 875.825.285.783

Penerimaan Netto:

2022: Rp 656.843.565.064

2023: Rp 821.224.079.381

Sektor Usaha Dominan Penerimaan Pajak di Kabupaten Berau

Tahun 2022:

  1. Pertambangan dan Penggalian: Rp 272.294.582.582
  2. Administrasi Pemerintahan: Rp 98.173.486.936
  3. Perdagangan Besar dan Eceran: Rp 73.840.891.187
  4. Pertanian, Kehutanan dan Perikanan: Rp 69.842.198.962
  5. Industri Pengolahan: Rp 52.047.525.334
  6. Transportasi dan Pergudangan: Rp 19.482.667.859
  7. Lainnya: Rp 71.162.212.204

Tahun 2023:

  1. Pertambangan dan Penggalian: Rp 347.176.873.564
  2. Administrasi Pemerintahan: Rp 190.843.985.639
  3. Perdagangan Besar dan Eceran: Rp 81.119.813.823
  4. Pertanian, Kehutanan dan Perikanan: Rp 73.540.615.885
  5. Industri Pengolahan: Rp 46.720.348.226
  6. Transportasi dan Pergudangan: Rp 26.630.671.128
  7. Lainnya: Rp 55.191.771.116

Nomor 1,2,3,4 dan 6 baik dibanding 2022

Sedangkan nomor 5 dan 7 mengalami penurunan.

Sumber data: KPP Pratama Tanjung Redeb, November 2023.

Reporter : Hendra Irawan

Editor : s4h