TANJUNG REDEB – PT Bukit Makmur Mandiri Utama (BUMA) Lati, membuktikan keseriusannya dalam membangun iklim ekonomi mandiri di Bumi Batiwakkal. Baru-baru ini, pihaknya resmi meluncurkan gerai untuk Wifepreneur BUMA, di Lantai 2, Bandara Kalimarau. Peluncuran Outlet Wifepreneur BUMA, jawaban atas kemandirian ekonomi kaum perempuan.

Wifepreneur BUMA sendiri merupakan komunitas Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) binaan PT Buma Lati yang terbentuk di era pandemi Covid-19, pada 2021 lalu. Dimana aktornya, merupakan istri para karyawan aktif yang bekerja di perusahaan.

Selain para istri karyawan, terdapat juga anggota komunitas yang berasal dari warga lingkar tambang yang tergabung dalam Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) yang anggota aktif sebanyak 14 orang.

Tidak tanggung-tanggung, untuk mengawal perkembangan bisnis Wifepreneur BUMA, perusahaan mendatangkan pendamping bisnis UMKM langsung dari Women Preneur Communitya (WPC) Jakarta. Yang menjadi faktor penentu bertahannya usaha tersebut selama 3 tahun belakangan ini.

“Program ini memiliki tujuan untuk meningkatkan potensi lokal Kabupaten Berau menjadi peluang ekonomi kreatif bagi masyarakat sekitar kampung lingkar tambang,” kata Sunardi Gunawan Rajagukguk, Management BUMA Lati.

Dijelaskan, tujuan dari didorongnya bisnis mandiri para istri karyawan tersebut, agar para perempuan tidak hanya bergantung pada pendapatan yang dihasilkan suami yang bekerja di tambang.

Sebab, menurutnya, aktivitas pertambangan di Berau ada masanya. Sehingga usaha kecil yang saat ini digeluti dapat menjadi penopang ekonomi keluarga dalam jangka waktu yang lama.

“Di sini istri bisa ambil peran untuk meningkatkan taraf ekonomi kreatif di dalam keluarga,” ujarnya.

Gunawan menyampaikan, capaian Wifepreneur BUMA saat ini, tidak lepas dari andil dukungan pemerintah daerah dan pihak-pihak lainnya di Berau.

Dukungan itu, berdampak baik terhadap omset usaha. Dimana saat ini, Wifepreneur BUMA, pada 2023 lalu mampu mendapatkan omset senilai 150 juta rupiah, naik 200 persen dari tahun sebelumnya.

“Tahun ini omsetnya sudah mencapai 50 juta rupiah,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Gunawan menerangkan, Wifepreneur BUMA telah berdiri sebagai badan usaha yang resmi di Berau. Dengan total anggota sebanyak 14 orang dan mengolah sebanyak 28 produk UMKM khas lokal Berau.

Produk olahannya, berasal dari bahan baku yang tersedia secara alami lokal Berau. Mulai dari udang galah, ikan tuna, cabe, kakao dan jenis bahan baku dasar lainnya, termasuk kain yang diolah menjadi batik khas Berau.

“Kami berharap produk ini dapat menjadi icon di Berau. Bisa dijadikan oleh-oleh para wisatawan,” harapnya.

Sementara itu, mewakili Bupati Berau, Sri Juniarsih, Sekretaris Daerah (Sekda) Berau, Muhammad Said, mengapresiasi inisiatif dari Buma untuk membangun komunitas bisnis dengan memberdayakan kaum perempuan di Berau.

Dengan harapan, gebrakan yang dilakukan oleh BUMA dapat menjadi pemicu semangat para pelaku UMKM lainnya di “Bumi Batiwakkal”.

“Dengan inisiasi seperti Wifepreneur ini, kita sangat bangga ada perusahaan seperti BUMA yang mampu berkontribusi memberikan dan mengembangkan serta mendukung UMKM Berau, terutama untuk istri-istri karyawan lokal BUMA,” ucapnya.

Selain itu, Kasi Pelayanan dan Kerjasama Bandara Kalimarau, Idham Zulfikar, menyampaikan harapan agar produk yang diluncurkan ini dapat menjadi ciri dari keaslian budaya di Berau.

Selain itu, diharapkan pula pelaku UMKM binaan BUMA tersebut dapat mejadi jawaban atas pertumbuhan ekonomi daerah yang semakin baik ke depan.

“Semoga ke depannya UMKM Berau dan BUMA ini dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan dapat membuat Berau lebih dikenal oleh publik,” harapnya. (*/ADV)

Reporter : Sulaiman

Editor : s4h