Penulis : admin

Foto : Ilustrasi pemukulan

TANJUNG REDEB, – Seorang guru honorer di SD 001 Tubaan, bernama Miftahudin jadi korban pemukulan. Pelakunya seorang guru dengan status PNS di sekolah yang sama berinisial MH. Setelah sempat mediasi, korban mengaku tidak puas hingga terus mencari keadilan. Pemukulan terjadi saat korban tengah mengajar di hadapan puluhan muridnya.

Pelaku pemukulan sampai saat ini tidak diberikan sanksi tegas. Diterangkan,pemukulan terjadi pada Senin (28/3/2022) lalu sekira pukul 09.30 Wita. Saat tengah mengajar, pelaku tiba-tiba datang, dan berteriak lalu memukul wajah korban.

“Saat itu dia datang dan memegang baju kerah saya, dan memukul tepat di wajah saya. Dia memukul persis di hadapan murid-murid saya yang mengerjakan tugas. Anehnya, setelah saya dipukul itu, dia pura-pura seperti kesurupan,” jelasnya kemarin.

Korban mengaku tidak tahu persis persoalan yang jadi pemicu. Saat pemukulan terjadi, dirinya mendapat pukulan di wajah lebih dari sekali. Korban tidak melakukan perlawanan sama sekali, karena dia tidak mau membuat keributan di hadapan anak muridnya.

“Saya bisa melawan. Cuman saya sadar, saya sebagai guru, apalagi dihadapan anak murid saya. saya bahkan, sempat bertanya ke pelaku, kenapa ini kalau ada masalah, mengapa tidak didiskusikan saja. Namun, pelaku kembali memukul. Tidak lama datang guru lain dan kepala sekolah,” katanya.

Ia hanya menduga karena permasalah perumahan dinas sekolah.

Miftahuddin, merantau Bandung, Jawa Barat ke Berau tahun 2018 lalu, menjadi guru honor serta ditawari kepala sekolah untuk tinggal di perumahan guru. Sebelumnya dia menyewa rumah sendiri.

Setelah selesai dikerjakan, korban mulai membersihkan rumah yang kotor dan tidak terawat untuk kemudian tinggal disitu. Beberapa bulan kemudian, ada tambahan guru baru, yakni pelaku MH. Pelaku juga belum lama menyandang status sebagai ASN.

“Awalnya dia (Pelaku) mau ditempatkan di perumahan yang lain. Tetapi perumahan itu bermasalah, sehingga akhirnya menempatkan pelaku serumah dengan saya. Karena memang ada dua kamar,” jelasnya.

Beberapa waktu lalu, dirinya juga sempat pulang kembali ke Bandung karena mengalami sakit. Saat itu juga ada salah seorang guru wanita, meminjam kamarnya untuk tinggal sementara sampai dia kembali. Dirinya kembali, guru wanita itu masih tetap ada dan tak kunjung pergi. Ia juga sering kerap ditanya warga mengenai adanya guru wanita yang tinggal di perumahan guru.

Dirinya juga sempat mengadukan ke kepala sekolah mengenai hal itu, namun dianggapnya tidak ada jalan keluar. Sehingga dia memutuskan, untuk mengalah dan akan mencari tempat sendiri. Akan tetapi, di hari berikutnya, ada pesan singkat di grup sekolah yang dikirim pelaku mengenai perumahan.

“Isinya kira-kira begini, kepada kepala sekolah yang saya hormati, saya mendengar kabar tak amat baik. Mengenai perumahan yang saya tempati. Saya tidak akan berkompromi lebih panjang lagi, saya akan menyelesaikannya dengan jalur otot, atau jalur hukum.

Saya masih ada buktinya,” ungkap korban. ia sempat meminta mediasi kepada kepala sekolah agar tidak ada kesalahpahaman. Namun, lagi-lagi usulannya itu tidak mendapat respon baik, hingga terjadi pemukulan ke esokan harinya. Mirisnya lagi, korban yang dipukul, korban juga yang dikeluarkan dari perumahan.

“Sementara yang memukul dipertahankan. Apapun alasannya, pemukulan itu tidak dibenarkan. Apalagi itu dilakukan dihadapan murid saya. Anak murid saya sampai teriak saat itu terjadi,” katanya.

Dalam mediasi itu, dirinya mengaku dikecewakan. Karena, dirinya seperti tidak diberi kesempatan atau ruang untuk menanyakan persoalan yang terjadi sebenarnya. Sebab, dirinya merasa tidak memiliki masalah sebelumnya dengan pelaku.

“Padahal saya posisinya korban. Saya juga ingin melanjutkan ke jenjang hukum, namun seolah keinginan saya itu tidak terakomodir. Apakah karena dia ASN, sementara saya hanya honorer biasa. Saya juga butuh keadilan,” jelasnya.

Dirinya mengaku, juga sempat mengadu ke Bupati Berau, hingga Kemendikbud melalui pesan pribadi di media sosial. Tidak itu saja, dia juga mengadu ke Dinas Pendidikan (Disdik) Berau, melalui bagian yang membidangi persoalan itu, tetapi belum ada respon.

 “Makanya saya bingung harus mengadu ke mana lagi. paling tidak ada tindakan tegas. saya juga mengajar menjadi tidak nyaman karena kejadian itu sebelum itu betul-betul selesai,” katanya.(*)

Editor: RJ Palupi