BERAU TERKINI – Membuat suling bambu bukan sekadar urusan memotong dan melubangi bahan, melainkan seni mengolah rasa, kepekaan pendengaran, serta ketelitian yang diwariskan lintas generasi.
Nilai filosofis ini dihadirkan dalam program “Belajar dari Sang Maestro – Membuat Suling” pada gelaran Festival Rindu Dumaring (FRD) 2026.
Edukasi diawali pada 22 Agustus 2026 melalui penjelajahan di Hutan Adat Patiraja.
Di bawah arahan maestro pembuat suling Dumaring, Jampiring, para peserta diajak mengenali dan memilih spesifikasi bambu yang tepat langsung dari alam.

Pembelajaran berlanjut dalam sesi workshop di Balai LPHD pada 28 dan 29 Agustus 2026 yang diikuti 12 peserta.
Didampingi fasilitator, Jampiring menuntun anak-anak dan remaja memilih diameter bambu, mengukur jarak, hingga menentukan letak presisi lubang nada guna menghasilkan harmonisasi suara yang pas.
Sebagai tolok ukur penyerapan materi, sebanyak 6 peserta kemudian menjajal kemampuannya dalam ajang unjuk kebolehan pada 30 Agustus 2026.
Penilaian lomba menitikberatkan pada ketepatan ukuran dan lubang sebesar 30 persen, kualitas suara 30 persen, ketepatan bentuk 25 persen, serta kerapian 15 persen.
Format penilaian ini sengaja tidak mencari kesempurnaan layaknya pengrajin profesional, melainkan mengukur sejauh mana peserta mampu menyerap instruksi serta kepekaan rasa yang diajarkan sang maestro.
Melalui program ini, FRD menegaskan, pengetahuan adat tidak selalu tersimpan dalam teks tertulis, melainkan perlu dirasakan, disentuh, dan didengarkan langsung.
Langkah sederhana ini diharapkan menjadi pemantik minat generasi muda Dumaring untuk terus menjaga kelestarian instrumen musik tradisional daerahnya. (*/Adv)
