BERAU TERKINI – BPBD Berau meningkatkan kewaspadaan akan karhutla di tengah meningkatnya cuaca panas.
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Berau terus menjadi perhatian serius.
Sepanjang 2026, tercatat sekitar 40 kejadian karhutla yang telah ditangani Tim Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (TRC PB) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Berau.
Kepala BPBD Berau Masyhadi Muhdi, melalui Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, Hermansyah, mengatakan kejadian karhutla menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa bulan terakhir.
“Kurang lebih sudah 40 kejadian karhutla yang ditangani TRC PB BPBD sepanjang 2026,” ujar Hermansyah, Minggu (9/8/2026)
Menurutnya, peningkatan cukup signifikan terjadi pada Mei dan Juli. Pada Mei tercatat 14 kejadian, sedangkan pada Juli jumlahnya meningkat menjadi 16 kejadian.
Kondisi tersebut menjadi perhatian BPBD, terlebih sejumlah wilayah Berau memiliki kawasan perkebunan, semak belukar hingga lahan gambut, yang berpotensi mudah terbakar ketika kondisi cuaca panas dan kering.

Wilayah yang cukup sering terjadi karhutla kata dia, di antaranya berada di sekitar Labanan–Tumbit, Kecamatan Sambaliung, serta kawasan poros Merancang–Tanjung Batu.
“Untuk lahannya ada yang berupa kebun, semak belukar, dan di wilayah Trans Bangun Sambaliung sebagian merupakan lahan gambut,” jelasnya.
Hermansyah menegaskan, BPBD belum dapat memastikan penyebab setiap kejadian kebakaran.
Namun, berdasarkan kondisi di lapangan, cuaca panas yang disertai angin kencang diduga menjadi salah satu faktor utama, yang membuat api mudah muncul dan cepat meluas.
“Dugaan kami karena cuaca panas dan angin kencang dan ada juga kelalaian manusia,” katanya.
Dia juga menyebut, dalam penanganan karhutla, BPBD masih menghadapi sejumlah kendala, terutama keterbatasan SDM, unit kendaraan maupun peralatan yang digunakan untuk menjangkau lokasi kebakaran.
Meski demikian, BPBD Berau memastikan kesiapsiagaan tetap dilakukan untuk mengantisipasi potensi karhutla, terutama ketika kondisi cuaca mendukung terjadinya kebakaran.
Penanganan di lapangan juga dilakukan secara lintas sektor dengan melibatkan instansi teknis terkait. Kolaborasi tersebut diperlukan agar api dapat segera dikendalikan dan tidak meluas ke kawasan yang lebih besar.
“Kami tetap siap siaga mengantisipasi terjadinya bencana karhutla. Tentunya dengan melibatkan instansi teknis lintas sektor dalam memadamkan api agar tidak meluas,” pungkasnya.
