BERAU TERKINI — Tepat di tengah momentum peringatan Hari Listrik Nasional yang diperingati setiap 27 Oktober, masyarakat Kabupaten Berau justru harus menelan pil pahit.
Alih-alih menikmati keandalan energi, warga Bumi Batiwakkal yang wilayahnya kaya raya akan sumber daya energi, malah dibelenggu krisis kelistrikan parah akibat pemadaman listrik bergilir yang telah berlangsung lebih dari sepekan.
Kondisi ini memicu keresahan luas di tengah masyarakat, karena dampaknya tidak hanya melumpuhkan aktivitas harian, tetapi juga menimbulkan kerugian materiil bagi para pelaku usaha, nelayan, hingga ibu rumah tangga.
Marchelia, seorang pengusaha pizza lokal, mengaku sangat dirugikan akibat pemadaman yang terjadi secara tiba-tiba tanpa mengikuti jadwal yang telah diedarkan.
Kondisi ini membuat proses produksi makanannya terhambat dan berisiko gagal.
“Sebenarnya bisa diantisipasi kalau pemadamannya sesuai dengan jadwal yang diedarkan, tapi nyatanya tidak, mau ngadon takut-takut,” ungkapnya kepada Berauterkini, Selasa (27/10/2026).

Ia menjelaskan, proses pembuatan adonan kue sangat bergantung pada aliran listrik.
Jika pemadaman terjadi di tengah proses pengadonan, bahan-bahan yang diolah bisa rusak dan terbuang sia-sia.
“Karena kalau mati listrik di tengah jalan adonan bisa rusak. Saya rasa bukan hanya kami yang meresahkan ini, terlebih ibu-ibu yang punya anak kecil,” ujarnya.
Dampak yang jauh lebih parah dirasakan oleh warga di Kampung Buyung-Buyung, Kecamatan Tabalar.
Ahmad, salah satu warga Kampung Buyung-Buyung, mengungkapkan, desanya sempat mengalami pemadaman total hingga 36 jam penuh.
Ironisnya, setelah sempat menyala sebentar, aliran listrik kembali padam dalam durasi yang tidak menentu.
Kondisi tersebut memukul telak perekonomian warga, mulai dari pelaku UMKM hingga nelayan yang kesulitan menjaga kesegaran hasil tangkapan laut akibat minimnya fasilitas pendingin cadangan.
Ia pun mempertanyakan bentuk pertanggungjawaban dari PLN atas kerugian yang dialami masyarakat.
“Apakah bisa diklaim di PLN tentang kerugian masyarakat dan UMKM ini karena enggak masuk akal mati lampunya,” katanya.
Selain kerugian ekonomi, pemadaman berkepanjangan turut memicu persoalan kesehatan dan kenyamanan keluarga.
Di tengah cuaca panas, anak-anak kesulitan beristirahat pada malam hari. Sementara pada siang hari, warga terpaksa keluar rumah untuk mencari udara segar yang justru meningkatkan risiko penularan demam berdarah dengue (DBD).
“Tadi pagi setengah tiga nyala dan sekarang mati lagi, anak-anak pun kalau malam teriak kepanasan, siang pada keluar rumah cari angin yang ditakutkan malah kena penyakit, apalagi di sini rawan DBD,” jelasnya.
Keluhan serupa datang dari para ibu rumah tangga yang menghadapi lumpuhnya aktivitas akibat matinya aliran listrik yang otomatis memutus distribusi air bersih.
Akibatnya, pekerjaan rumah tangga menjadi terbengkalai, ditambah rasa cemas akan ancaman kerusakan peralatan elektronik rumah tangga akibat lonjakan arus listrik yang tidak stabil.
“Mati air begini bikin kerjaan jadi tertunda, yang biasanya satset jadinya malah selesai di akhir. Belum lagi takutnya alat elektronik itu bisa rusak,” ujar salah satu ibu rumah tangga, Nurlaila. (*)
