BERAU TERKINI – Pemkab Berau berjuang memadamkan karhutla yang terjadi berbagai langkah dan upaya terus dilakukan.

Kejadian kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di Berau kian mengkhawatirkan.

Data BMKG Berau menunjukkan penambahan titik panas atau hotspot dalam sepekan terakhir.

Pemkab Berau pun berupaya memadamkan api karhutla yang tersebar di berbagai titik.

Dalam Rakor Darurat Penanganan Karhutla pada Selasa (18/8/2026) malam, Pemkab Berau menggandeng TNI Polri serta perusahaan yang beroperasi di Berau untuk bekerja sama atasi Karhutla.

WhatsApp Image 2026 08 12 at 20.12.25 2

Salah satu langkah yang akan ditempuh adalah dengan metode water bombing dari armada helikopter yang dimiliki oleh Skadron 13/Amur Balottama Yudha Penerbad TNI AD.

Bupati Berau Sri Juniarsih mengatakan, pihaknya telah mendapat tawaran bantuan dari Skadron 13/Amur Balottama Yudha untuk mengerahkan helikopter dalam penanganan karhutla.

Armada tersebut nantinya, dapat digunakan untuk melakukan pemadaman dari udara menggunakan metode water bombing.

“Metode water bombing kita gunakan andai berbagai cara yang dilakukan masih belum maksimal,” ujarnya.

Menurut Sri Juniarsih, opsi water bombing menjadi salah satu alternatif apabila kondisi di lapangan semakin sulit ditangani dengan upaya pemadaman melalui jalur darat.

Untuk itu, ia meminta seluruh unsur yang tergabung dalam Satgas Karhutla terus meningkatkan koordinasi dan komunikasi, baik dengan instansi lintas vertikal maupun perusahaan yang memiliki sumber daya pendukung.

“Selain pengerahan sumber daya untuk pemadaman, kami juga kembali mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan,” pungkasnya.

Salat Istisqa Harapkan Hujan

Selain berjuang di lapangan dalam memadamkan api karhutla, Pemkab Berau juga berupaya mengetuk pintu langit dan mengharapkan akan turunnya hujan.

Langkah itu dilakukan dengan menggelar Salat Istisqa di halaman Masjid Agung Baitul Hikmah, Tanjung Redeb pada Rabu (19/8/2026) pagi.

Terlihat ratusan warga Berau mengikuti Salat Istisqa dengan Ustadz Mahbub Helmani bertindak selaku imam dan dan khotbah yang dibawakan oleh khatib Habib Jamaluddin Fahmi Al-Jufri.

Wabup Berau Gamalis, mengapresiasi kehadiran warga Berau yang datang walaupun pelaksanaan diumumkan mendadak.

Ia menambahkan bahwa Berau sedang berada di satu permasalahan yaitu kemarau panjang dan hujan yang ditunggu-tunggu belum turun hingga sekarang.

Suasana pelaksanaan Salat Istisqa di halaman Masjid Agung Baitul Hikmah, Rabu (19/8/2026). (Adrikni/BT)
Suasana pelaksanaan Salat Istisqa di halaman Masjid Agung Baitul Hikmah, Rabu (19/8/2026). (Adrikni/BT)

“Saya kira seluruh masyarakat menginginkan agar supaya Berau ini dengan kondisi alam seperti ini bisa lebih baik lagi,” ungkapnya kepada Berauterkini, Rabu (19/8/2026).

Dia berharap dengan adanya Salat Istisqa maka Allah SWT berkenan menurunkan hujan.

Dengan melihat antusias masyarakat, ia menilai jika diadakan kembali dalam 3 hari ke depan kemungkinan warga yang mengikuti salat tersebut akan lebih banyak lagi.

“Mudah-mudahan dengan adanya salat bersama salat istisqa meminta turun hujan kita segera mendapatkan keberkahan, harapannya seperti itu,” tambahnya.

Sementara itu, khatib Salat Istisqa, Habib Jamaluddin Fahmi Al-Jufri, mengatakan tujuan berkumpulnya masyarakat tentunya untuk melaksanakan salat istisqa dan istighotsah, bermunajat, berdoa meminta pertolongan Allah agar Allah berkenan menurunkan hujan sebagai rahmat-Nya.

“Oleh karena itu, dengan kerendahan hati kita semuanya berkumpul pada saat ini untuk memohon ampun atas segala dosa dan kekhilafan yang kita kerjakan,” ujarnya pada khotbahnya.

Ia mengingatkan untuk menjadikan kejadian-kejadian tersebut sebagai sebuah pelajaran dan pengingat untuk kembali dan semakin dekat dengan Allah, karena kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia itu sendiri

Ia menegaskan tujuan utama Allah menurunkan bencana atau musibah ini untuk mengingatkan atas kesalahan dan kekhilafan yang sering dilakukan setiap saatnya.

“Supaya mereka kembali ke jalan yang Allah ridai. Jika ada bencana atau musibah diturunkan oleh Allah, maka kita harus intropeksi diri kita masing-masing. Jangan menyalahkan keadaan, jangan menyalahkan pemerintah, individu atau dinas terkait,” pesannya.