Reporter : Sulaiman
|
Editor : Suriansyah

TANJUNG REDEB – Persoalan tingginya harga tiket pesawat untuk penerbangan domestik, masih menjadi momok di tengah pemerintah daerah mengupayakan peningkatan pariwisata bertumbuh di daerah. Menurut Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) RI, Sandiaga Salahuddin Uno, pemerintah daerah menerapkan skema blockseat alias sewa kursi.

Peryataan itu jawaban Menparekraf Sandiaga, saay ditanya persoalan itu. Akunya, dia masih mengandalkan skema blockseat alias sewa kursi yang dapat dilakukan oleh pemerintah daerah.

Penerapan skema tersebut, katanya, sudah familiar. Dimana langkah tersebut telah dilakukan di daerah wisata Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara.

“Kemendagri memperbolehkan itu. Pola itu sah dalam penggunaan anggaran daerah yang mampu,” kata Sandi Uno, kepada awak media saat bertandang ke Pulau Derawan, Selasa (2/7/2024) lalu.

Selain blockseat, pihaknya juga telah melakukan koordinasi dengan Kementerian Perhubungan untuk mengaktifkan lebih banyak lagi pesawat di Indonesia.

Paling tidak, dengan keragaman pilihan maskapai, harga akan dapat ditekan dengan semakin banyaknya maskapai yang aktif di Indonesia.

“Sudah ada komitmen dari teman-teman (Kemenhub RI), untuk menambah jumlah penerbangan,” bebernya.

Dengan harapan, ke depan semakin menurunnya harga tiket pesawat ke Berau, dapat meningkatkan aktivitas kunjungan pariwisata.

Dimana, selain wisdom alias wisatawan domestik, juga saat ini diharapkan para turis juga dapat berkunjung ke seluruh destinasi wisata yang ada di Berau.

“Jadi, masyarakat kalau mau healing, itu bisa ke Berau,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Ilyas Natsir, menyampaikan bahwa pihaknya berharap besar terhadap peran kementerian yang dapat mendiskusikan langsung persoalan ini ke pihak maskapai.

Selain itu, Ilyas berharap, persoalan harga tiket ini dapat didiskusikan serius di meja pertemuan pemerintah pusat, langsung dengan Presiden Joko Widodo.

“Kalau harga tiket turun, masyarakat yang hidup dari destinasi juga bisa hidup,” tuturnya. (*/ADV)