BERAU TERKINI – Ada hukum alam yang tidak diajarkan di pelajaran fisika: jam 4 pagi di hari Minggu, kasur punya gaya tarik lebih besar daripada gravitasi bumi. Tapi Minggu (25/10/2026) lalu, hukum itu dilanggar oleh 38 orang sekaligus, termasuk saya.
Kami, para pesepeda HeartBeat Pedal Club. Tujuan kami Air Terjun Merasa, yang biar singkat dan terdengar mahal saya sebut ATM.
Istilah ini baru terpikir waktu saya menulis paragraf ini. Jadi jangan dicari di Google Maps. Yang keluar dari sana bukan uang, melainkan keringat, dan itu tidak bisa ditabung.
Total jaraknya 70 kilometer dengan elevasi 1.000 meter. Lumayan. Mengingat sebagian besar dari kami pesepeda hepi-hepi: jenis manusia yang beli sepeda biar sehat, lalu lebih sering berhenti di warung daripada mengayuh.

Saya sendiri tidak start dari Tanjung Redeb. Jangan salah sangka, itu bukan kecurangan, itu manajemen risiko. Sebelum berangkat, kami semua sudah sepakat soal jarak bisa ditoleransi, tapi ketawa-ketiwi tidak boleh terlewat.
Ini lebih ke kalimat penghibur bagi penulisnya sendiri sih. Hehehe.
Yang start dari Tanjung Redeb berangkat jam empat pagi. Salah satunya dokter Andi Efri, yang katanya sudah menyiapkan diri jauh-jauh hari.
Klub ini memang banyak dokternya. Jadi kalau ada yang tumbang di tanjakan, setidaknya yang menolong bergelar.
“Ini adalah cara saya refleksi sekaligus mengukur kemampuan diri,” ucap dokter Andi.
Dalam sekali. Dan terbukti, tanjakan memang tempat terbaik untuk refleksi. Karena ia tidak peduli gelar, pangkat, atau harga sepedamu.
Setiap rombongan pasti punya satu anomali. Kami punya Imran. Dengan BMX 20 inci dan ban gendutnya.
Sepeda itu dirancang untuk atraksi, bukan 70 kilometer dengan elevasi seribu meter.
Sadelnya rendah, jadi ia tidak bisa terus duduk manis, dan remnya tidak ada. Ia hanya mengandalkan kaki dan kekuatan doa. Rem paling organik yang pernah ada.
Perjalanan ini juga bukan semata pencapaian pribadi. Ada tim konsumsi, tim transportasi, dan orang-orang di balik layar yang tidak tampak di foto karena mereka yang memegang kamera.
Jangan lupa istri-istri di rumah. Lisensi ISO (Istri Sudah Oke) adalah hal utama kegiatan begini. Tanpa lisensi mereka, niscaya kalian tidak bisa sampai sini.
“Ini timnya memang kompak, yang di depan layar maupun yang di belakang layar. Saluuutttt. Semoga bisa berlanjut di tour berikut,” ujar dokter Kaharuddin.
Huruf “t” yang dipanjangkan itu, dalam budaya WhatsApp, adalah tingkat hormat tertinggi.
Dari 50 orang yang berangkat dan terlibat, alhamdulillah semua pulang dengan selamat. Angka itu lebih penting dari 70 kilometer dan 1.000 meter.
Kami berkumpul, bercengkrama, mandi, lalu makan bersama. Urutan sempurna: capek dulu, basah kemudian, kenyang belakangan.
Tujuan berkeringat dan melepas penat tercapai. Rute berikutnya? Kami juga belum tahu. Yang jelas, apa pun tanjakannya, ketawa-ketiwi dulu, urusan napas belakangan. (*)
Penulis: Sigit Pamungkas
