BERAU TERKINI – Niat awal Arifuddin datang ke Berau pada 1993 sebenarnya sederhana, yaitu menyusul perempuan yang membuatnya merasa kehilangan.
Berbekal keberanian dan niat baik, pria kelahiran Pinrang, 19 Oktober 1966, itu menyeberang dari Tarakan menuju Berau menggunakan kapal Anugrah.
Perjalanan laut selama sekitar 12 jam ditempuhnya demi satu tujuan: menemui keluarga perempuan yang kelak menjadi istrinya.
Saat itu, Arifuddin sudah mengenal sang pujaan hati sejak 1993 ketika keduanya berada di Tarakan.
Arifuddin yang baru pulang dari Malaysia tinggal tidak jauh dari sekolah tempat perempuan tersebut menempuh pendidikan.

Namun, setelah sang perempuan lulus dan pulang ke Berau, Arifuddin mulai merasakan sesuatu yang berbeda.
“Saya merasa kehilangan. Untuk pertama kalinya saya merasa kehilangan. Mungkin ini jodoh saya,” tuturnya.
Perasaan itulah yang akhirnya membuat Arifuddin mengambil keputusan besar.
Ia menyusul ke Berau meski orang tuanya berada di Sulawesi dan dalam kondisi sakit.
Setibanya di Berau, keluarganya sempat dibuat terkejut. Sebab, Arifuddin datang bukan sekadar berkunjung.
Ia membawa niat untuk melamar. Malam itu juga ia menyampaikan maksudnya.
“Saya datang dengan niat baik. Kalau diterima, Alhamdulillah saya tinggal. Kalau tidak, besok saya pulang,” kenangnya.
Ia diminta menunggu kedatangan ayah sang perempuan yang saat itu sedang bekerja.
Tiga hari kemudian, jawaban yang ditunggu akhirnya datang. Lamaran Arifuddin diterima.
Keduanya menikah pada Agustus 1994. Sejak saat itu, Berau bukan lagi sekadar tempat yang ia datangi untuk mengejar cinta.

Berau perlahan menjadi rumah sekaligus tempat Arifuddin menemukan jalan hidupnya sebagai seorang seniman.
Selepas menikah, Arifuddin sempat mengajar di SMA PGRI Berau selama sekitar satu tahun.
Pada 1995, ia kemudian pindah ke Mangkajang dan bekerja di perusahaan Kiani Kertas.
Di tempat itulah kemampuan seninya semakin menemukan ruang. Arifuddin dipercaya mengerjakan gapura di kawasan Kilo Tiga Mangkajang.
Tidak hanya membuat gapura, ia juga mengerjakan berbagai ukiran bernuansa Dayak yang menghiasi kawasan tersebut.
Kemampuan melukisnya kemudian diketahui pihak perusahaan. Bukannya kembali ditempatkan sebagai pekerja biasa, Arifuddin justru dibuatkan ruangan khusus untuk melukis.
Karyanya digunakan sebagai cenderamata bagi tamu-tamu VIP perusahaan.
“Jabatan saya dulu safety artist,” ujarnya sambil tertawa.
Dari ruang khusus itulah perjalanan panjang Arifuddin sebagai pelukis semakin berkembang.
Ia banyak melukis pemandangan Berau, budaya Dayak, serta berbagai flora dan fauna Kalimantan. Karya-karyanya bahkan diminati hingga mancanegara.
Ada sekitar 130 karyanya yang tersebar di Kanada, sementara sebagian lainnya berada di Jerman.
Salah satu pengalaman yang paling diingatnya adalah ketika seorang pelanggan dari luar negeri memesan sejumlah lukisan yang menampilkan satwa Kalimantan.
Mulai dari enggang, biawak, payau hingga berbagai satwa khas Kalimantan menjadi objek di atas kanvasnya.
Bagi Arifuddin, melukis budaya dan alam Kalimantan bukan sesuatu yang asing. Justru sejak awal berkarya, ia merasa dekat dengan objek-objek tersebut.
“Kalau saya mau melukis, objeknya Dayak,” katanya.

Arifuddin mulai aktif sebagai pelukis profesional sejak sekitar 1990. Lebih dari tiga dekade kemudian, ia masih terus berkarya.
Setelah pensiun dari perusahaan, aktivitasnya justru tidak berhenti. Ia memilih menjadi full artist, sembari tetap mengajar seni rupa dan menerima pesanan lukisan.
Produktivitasnya pun tidak bisa diukur dengan target harian. Kadang tiga lukisan bisa diselesaikan dalam satu minggu.
Namun, ada pula satu lukisan yang membutuhkan waktu hingga berbulan-bulan.
“Tergantung kalau mau buat lukisan itu,” katanya singkat.
Baginya, proses melukis tidak bisa dipaksakan. Ada karya yang lahir cepat, ada pula yang membutuhkan waktu lebih panjang untuk menemukan bentuk dan rasa yang tepat.
Menariknya, meski telah lama tinggal dan berkarya di Berau, pasar lukisan justru lebih banyak datang dari luar daerah.
Pesanan pernah datang dari Tarakan, Samarinda, Manintap hingga Sulawesi.
Ia juga telah mengikuti berbagai pameran, termasuk di Malaysia dan Filipina Selatan.
Untuk pameran tunggal, Arifuddin pernah menggelarnya di Makassar dan Malaysia.
Sementara di Berau sendiri, ia mengaku belum pernah menggelar pameran tunggal.
Puluhan tahun berkarya membuat Berau memiliki tempat khusus dalam kanvas Arifuddin.
Alam, budaya Dayak, kehidupan masyarakat hingga satwa Kalimantan menjadi sumber inspirasinya.
Ia seolah menjadikan lukisan sebagai cara untuk menyimpan potongan-potongan kehidupan Berau.
Namun, Arifuddin melihat dunia seni saat ini sudah jauh berubah. Jika dulu seorang seniman harus berjuang mencari bahan dan referensi, perkembangan teknologi kini membuat semuanya jauh lebih mudah.
Namun kemudahan itu, menurutnya, juga menghadirkan tantangan baru.

“Dulu justru lebih asyik, lebih menantang. Kalau dulu itu seniman betul-betul seniman. Sekarang ini banjir, terlalu banjir,” tuturnya.
Ia pun tidak ingin berhenti belajar. Di usianya yang sudah tidak muda lagi, Arifuddin masih terus berproses dan menghasilkan karya.
Pesannya sederhana bagi generasi muda yang ingin menjadi seniman: jangan berhenti berproses.
“Harapannya semoga seni tetap berkembang. Kalau mau jadi seniman, tetap berproses,” pesannya.
37 tahun berkarya membuat Arifuddin memahami satu hal. Menjadi seniman bukan tentang seberapa cepat sebuah lukisan selesai, tetapi tentang seberapa panjang seseorang mampu bertahan untuk terus menciptakan karya.
Dan menariknya, perjalanan itu bermula dari sebuah perjalanan laut selama 12 jam ketika seorang lelaki datang ke Berau bukan untuk menjadi pelukis, melainkan untuk melamar pujaan hatinya. (*)
