BERAU TERKINI – Simak cerita driver ojek online (ojol) saat sulit dapatkan BBM, terpaksa tidak ambil pesanan.

Sulitnya mencari BBM beberapa hari terakhir ini baik di SPBU maupun eceran menyulitkan seluruh lapisan masyarakat.

Tidak terkecuali para ojol yang keluhkan dampak dari susahnya BBM dan sekali pun ditemukannya BBM, maka harga akan melambung tinggi.

Ketua Garda Ojol Berau, Deni Firmansyah, mengatakan dengan naiknya harga BBM tentu mereka tidak bisa menaikkan tarif harga, lantaran mereka tidak memiliki kewenangan.

Namun jika berbicara kendala, sudah hari ketiga bahkan keempat dari rekan-rekan ojol yang sudah mematikan sementara aplikasinya karena tidak mendapatkan BBM.

Ia mengeluhkan antrean SPBU yang sampai keluar jalur, bahkan ia pribadi sempat mendorong motor dari Jalan Pulau Sambit hingga ke wilayah Sungai Bedungun.

“Untung ada yang lewat dibantu dorong karena kehabisan bensin, di eceran pun tiba-tiba kemarin dari pagi tuh sampai tadi malam enggak ada di eceran,” ujarnya kepada Berauterkini.

Ia lebih memilih menonaktifkan aplikasi daripada terus-terusan aktif namun susah menemukan BBM.

Antrean BBM di SPBU Sambaliung.
Antrean BBM di SPBU Sambaliung.

Kerugian tentu didapat oleh rekan ojol, karena berdasarkan perhitungan sehari-hari, mereka biasanya hanya mengeluarkan sekitar Rp40 ribu saja untuk membeli BBM.

Namun dengan kondisi seperti ini, otomatis dari eceran pun walaupun tersedia harga bisa naik dua kali lipat.

Jika ingin ikut mengantre SPBU pun akan memakan waktu, karena yang seharusnya sudah bisa mendapatkan banyak orderan dikarenakan waktu yang dihabiskan untuk mengantre terlalu lama, maka hanya mendapatkan satu orderan saja.

Dalam satu hari, ia hanya membutuhkan sekitar 3 liter saja untuk motor matic di bawa 150 cc.

“Rata-rata muatan motor-matic kita di 2-3 liter itu udah maksimal banget. Tapi paling-paling ini tuh 2 literan lah,” ujarnya.

Dia menyebut, satu-satunya opsi agar tidak begitu merugikan di tengah carut marut BBM adalah menonaktifkan aplikasi.

Kalau pun ingin mengikuti aplikasi dan tetap mengambil orderan, berarti harus siap dengan segaal resiko bahan bakar yang harganya melambung tapi pendapatan ojol tetap normal.

“Pilihan kita cuman ngejalankan sesuai aplikasi atau kita off kan karena hitung-hitungan kita ke bahan bakar,” katanya.

Jika sampai beberapa hari ke depan mencari BBM di SPBU dan eceran masih sulit, ia memutuskan tidak mengambil pesanan karena menurut perhitungan dari segi harga dan pendapatan yang tidak sebanding.

Pengendara saat antre mengisi BBM di SPBU milik Pertamina di Berau (Zuhrie/BT)
Pengendara saat antre mengisi BBM di SPBU milik Pertamina di Berau (Zuhrie/BT)

Kendala dari sulitnya BBM ini juga dialami oleh Ojol semua aplikasi yakni Kang Didin, yang mengaku sangat berdampak sekali ke para ojol.

Lantaran jika ikut mengantre di SPBU penuh dengan pengantri lain sehingga kadang tidak kebagian.

Kalau pun bisa mengantre, maka tidak bisa langsung mengambil orderan hari ini lantaran waktu yang habis untuk mengantre, maka baru bisa kembali menarik orderan keesokan harinya.

“Mungkin hari ini ngantri ya enggak Ojol, besok baru Ojol lagi jadi sangat berdampak sekali,” ujarnya.

Opsi lain dengan membeli di penjual eceran bisa dilakukan, namun harganya cenderung melambung sedangkan tarif Ojol tidak ada perubahan sejak tahun 2001 sampai sekarang.

“Ini gara-gara kelangkaaan BBM ini banyak teman-teman yang enggak Ojol, enggak turun ngojek gara-gara sulit mendapatkan BBM,” keluhnya.

Ia berharap kepada instansi terkait untuk menertibkan pengetap BBM dan menerapkan aturan yang sudah ada.

“Kita berharap ke pemerintah tolong ditertipkan sesuai dengan undang-undang yang sudah ada,” harapnya.

Driver ojol yang berkumpul di halte Ojol Jalan Mangga 2, Tanjung Redeb, Berau (Adrikni/BT)
Driver ojol yang berkumpul di halte Ojol Jalan Mangga 2, Tanjung Redeb, Berau (Adrikni/BT)

Sementara itu, driver ojol lainnya yakni Anas, mengaku sudah 2 hari ini tidak mengambil orderan karena tidak mendapatkan BBM.

Ia sudah menonaktifkan aplikasi karena BBM dimotornya hanya tersisa 1 bar saja.

“Mulai dua hari sudah, aku tadi sempat mengantri tidak kebagian, pas dapat di eceran tadi mau antre diserbu orang juga tidak kebagian,” keluhnya.