BERAU TERKINI – Timbunan sampah di Berau yang mencapai sekitar 150 ton per hari menjadi tantangan serius bagi pemerintah daerah.
Wabup Berau, Gamalis, menilai persoalan tersebut perlu ditangani melalui pembenahan sistem pengelolaan sampah, penguatan infrastruktur.
Tak hanya itu, perubahan pola pikir masyarakat juga diperlukan agar sampah tidak sekadar berakhir di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), tetapi juga dapat diolah menjadi sumber daya bernilai ekonomi.
Gamalis menyebutkan, berdasarkan data yang disampaikannya, timbunan sampah di Berau mencapai sekitar 54.568 ton per tahun.
Jika dibagi dalam hitungan harian, jumlah tersebut setara dengan kurang lebih 150 ton sampah yang dihasilkan setiap hari.
Menurutnya, angka tersebut tidak boleh hanya dipandang sebagai data statistik, melainkan menjadi peringatan bagi pemerintah daerah dan masyarakat untuk segera memperbaiki sistem pengelolaan sampah secara menyeluruh.

“Sampah ini saya kira kita tidak bisa lagi memandangnya sebagai sesuatu yang harus kita buang. Hari ini sampah sudah menjadi bagian dari sumber daya yang dapat memberikan manfaat, baik ekonomi, sosial maupun lingkungan,” ujarnya pada Berauterkini.co.id
Ia menegaskan, paradigma pengelolaan sampah harus mulai bergeser.
Sampah tidak lagi sekadar menjadi limbah yang dikumpulkan, diangkut, kemudian dibuang, tetapi perlu dipandang sebagai material yang masih memiliki nilai guna apabila dikelola dengan tepat.
Dia mencontohkan berbagai upaya pengolahan sampah yang dilakukan masyarakat dapat menjadi gambaran bahwa sampah memiliki potensi ekonomi.
Karena itu, upaya pemilahan dan pengolahan sampah perlu diperkuat agar volume sampah yang berakhir di TPA dapat ditekan.

Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah keterbatasan kapasitas tempat pemrosesan akhir. Saat ini, TPA Bujangga memiliki luas sekitar 11,5 hektare.
Gamalis mengingatkan, apabila pengelolaan sampah masih mengandalkan pola konvensional, beban TPA akan semakin besar.
Terlebih, peningkatan volume sampah tidak selalu diikuti penambahan kapasitas maupun perbaikan sistem pengelolaan.
“Kalau pola ini terus berlanjut, saya kira TPA kita tidak akan mampu menampung. Overcapacity akan ada di sana,” ungkapnya.
Ia juga menilai, data timbulan sampah yang tersedia perlu terus diperbarui untuk menggambarkan kondisi terkini.
Sebab, angka yang dirilis berdasarkan data tahun sebelumnya belum tentu mencerminkan volume sampah yang dihasilkan saat ini.
Karena itu, diperlukan langkah antisipatif melalui pengurangan sampah sejak dari sumbernya, sehingga ketergantungan terhadap TPA tidak terus meningkat.
Selain persoalan kapasitas TPA, kondisi geografis Kabupaten Berau yang memiliki banyak destinasi wisata juga menjadi tantangan tersendiri dalam pengelolaan sampah.
“Keterbatasan lahan, infrastruktur, dan sumber daya manusia menjadi kendala dalam menangani sampah secara optimal,” terangnya.(Adv)

