BERAU TERKINI – Adik Presiden Prabowo yakni Hashim Djojohadikusumo memiliki pendapat yang berbeda soal rating MSCI.

Lembaga pemeringkat finansial dunia yakni MSCI membuka opsi untuk menurunkan status atau rating bursa efek Indonesia.

Diketahui saat ini IHSG masuk dalam kategori emerging market, namun MSCI membuka peluang mengubah status Indonesia menjadi standalone market.

Kebijakan MSCI itu pun langsung direspons oleh pasar yang membuat perdagangan di IHSG ambruk pada Jumat (16/10) lalu.

Usai ambruknya IHSG itu, Presiden Prabowo ikut berkomentar. Dia menyebut langkah MSCI itu sebagai upaya untuk menganggu pembangunan di Indonesia.

“Kita tahu tantangan masih sangat besar, gangguan masih banyak, kita terus dihadang,” kata Presiden Prabowo dikutip dari siaran YouTube Sekretariat Presiden pada Kamis (22/10) lalu.

Presiden Prabowo saat hadiri Rakornas TPAKD (YouTube/Sekretariat Daerah)
Presiden Prabowo saat hadiri Rakornas TPAKD (YouTube/Sekretariat Daerah)

Kepada MSCI, Presiden Prabowo menyebut Indonesia sebagai bangsa yang besar tidak takut dengan ancaman MSCI.

“Ada MSCI, macem-macem, dia mau takut-takuti kita, saya katakan kepada MSCI ‘Bangsa Indonesia tidak takut siapapun dan tidak akan gentar'” tegasnya.

“Kita tidak takut, kita punya kekuatan, kita punya keberanian, dan kita tidak kenal menyerah, kalau perlu kita adakan penghematan besar-besaran,” jelasnya.

Namun komentar berbeda datang dari adik Presiden Prabowo yakni Hashim Djojohadikusumo.

Hashim Djojohadikusumo menilai, penurunan rating atau peringkat IHSG oleh MSCI akan berdampak pada pelemahan rupiah bahkan berpeluang membuat krisis ekonomi.

Konferensi pers di BEI usai ambruknya IHSG (Instagram/@sufmi_dasco)
Konferensi pers di BEI usai ambruknya IHSG (Instagram/@sufmi_dasco)

“Saya sudah hitung bisa jadi Rp 20.000-Rp 21.000 per dolar AS. Ada yang bilang Rp 22.000. Kalau itu terjadi, rupiah bisa Rp 21.000-Rp 22.000, pinjaman luar negeri kita, kita harus bayar lebih mahal,” ujar Hashim Djojohadikusumo dikutip dari siaran YouTube Kadin Indonesia.

“Ini jadi, bisa jadi bencana dan malapetaka bagi ekonomi Indonesia,” ungkapnya.

Dirinya pun meminta para pelaku usaha khususnya pasar modal untuk menyetop kegiatan yang merugikan Indonesia, seperti halnya aksi menggoreng saham.

“Ada indikasi memang ada praktek-praktek yang tidak sehat yang terjadi di pasar saham kita. Saya gak usah sebut siapa, tapi ada saham-saham yang istilahnya digoreng,” ucapnya.

““Jangan sampai rupiah jadi Rp 21.000, Rp 22.000. Ini jadi punya dampak politik yang luar biasa negatif,” jelasnya.