BERAU TERKINI — Penyelamatan dramatis terhadap seekor orangutan yang viral di media sosial berbuah manis. Sempat mengalami malnutrisi dan dehidrasi parah akibat kemarau panjang, satwa dilindungi itu kini tengah menjalani proses pemulihan intensif di Kabupaten Berau.

Kisah bermula ketika video penampakan orang utan tersebut viral setelah direkam oleh seorang operator excavator dari dalam kabin. 

Menindaklanjuti video tersebut, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur bersama mitra, salah satunya Conservation Action Network (CAN), langsung bergerak melakukan penelusuran.

Kepala BKSDA Kaltim, M Ari Wibawanto, menjelaskan, orangutan tersebut ditemukan di Desa Menamang Kanan, Kecamatan Muara Kaman, Kabupaten Kutai Kartanegara, pada 14 September. 

Proses evakuasi orangutan yang dilakukan CAN Borneo dan BKSDA Kaltim.
Proses evakuasi orangutan yang dilakukan CAN Borneo dan BKSDA Kaltim.

Setelah sempat mendapat perawatan darurat selama 24 jam di lokasi, satwa malang itu langsung dievakuasi ke Pusat Rehabilitasi Satwa (PRS) Long Sam yang dikelola oleh CAN di Kampung Merasa, Kecamatan Kelay, Kabupaten Berau.

Menurut Ari, penyelamatan ini menjadi krusial di tengah ancaman perubahan iklim dan cuaca ekstrem.

“Dugaan kami, kondisi ini merupakan dampak dari kemarau panjang yang terjadi, sehingga mempengaruhi kehidupan satwa, tidak hanya orangutan tapi juga yang lain,” ungkap Ari.

Kondisi fisik orangutan saat pertama kali ditemukan sangat memprihatinkan. Berdasarkan pemeriksaan, orangutan tersebut mengalami malnutrisi berat dengan body score 1 dari 5 (sangat kurus), dehidrasi parah, serta tulang rusuk yang tampak sangat jelas akibat kekurangan sumber pakan dan air di habitat asalnya.

Direktur dan Founder CAN Borneo, Paulinus Kristanto, menceritakan perjuangan tim medis saat pertama kali menerima satwa tersebut di Berau.

“Saat tiba di PRS Long Sam, satwa ini sangat lemah dan hanya sanggup berjalan beberapa meter. Orangutan ini mengalami dehidrasi berat karena tidak ada sumber air di sekitar lokasinya ditemukan,” ujar Paulinus.

Ia menambahkan, perbaikan nutrisi menjadi kunci utama dalam proses rehabilitasi ini. 

Pada hari-hari pertama kedatangannya, orangutan tersebut bahkan sempat menolak makan dan hanya mau minum. 

Nafsu makannya baru mulai pulih pada hari keempat perawatan di PRS Long Sam.

Hingga saat ini, proses pemulihan orang utan tersebut masih terus berlangsung di PRS Long Sam.

Tim konservasi berharap kondisi fisiknya segera pulih agar dapat kembali dilepasliarkan ke habitat alaminya di alam bebas.

Menariknya, hingga kini satwa malang yang menjadi simbol perjuangan konservasi di tengah musim kemarau ini belum memiliki nama. 

“Saat ini orangutan belum diberikan nama, mungkin ada yang punya usul nama terbaik?” pungkas Paulinus. (*)