BERAU TERKINI – Pemerintah Kabupaten Berau resmi mengalihkan kegiatan pembelajaran tatap muka (PTM) menjadi Belajar Dari Rumah (BDR) atau Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) bagi seluruh satuan pendidikan di Bumi Batiwakkal.
Kebijakan ini diambil menyusul memburuknya pemantauan cuaca dan ketebalan asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Berdasarkan data BMKG, angka partikulat PM 2.5 di Berau tercatat menyentuh 62,7 μg/m3 dengan indikator Tidak Sehat.
Keputusan pengalihan pembelajaran ini tertuang dalam Surat Edaran Sekretariat Daerah Berau Nomor 800/3187/Umpeg-Disdik tertanggal 7 September 2026 yang ditandatangani Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, M Hendratno.

Langkah BDR berlaku untuk seluruh jenjang pendidikan mulai dari PAUD, SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, SMK, hingga SLB, baik negeri maupun swasta.
Skema PJJ ini ditetapkan berlaku efektif mulai 8-10 September 2026 dan akan dievaluasi secara berkala per tiga hari sesuai dinamika Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU).
Pemkab Berau menegaskan, penghentian sementara PTM bukan berarti libur sekolah. Pembelajaran dapat dilaksanakan dengan moda daring, luring, maupun kombinasi (hybrid) yang disesuaikan dengan ketersediaan daya listrik serta akses internet peserta didik.
Selama BDR, beban belajar siswa disederhanakan dengan berfokus pada penguatan literasi, numerasi, serta pendidikan karakter dan kesehatan tanpa memberikan penugasan yang memberatkan.
Di samping itu, pihak sekolah diinstruksikan menerapkan standar protokol kesehatan ketat 6M+1S, mendata siswa yang memiliki penyakit penyerta, serta menyediakan minimal satu Ruang Kelas Aman Asap sebagai perlindungan sementara.
Sekolah juga diperkenankan memanfaatkan Dana Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP) untuk mendukung operasional BDR dan pengadaan sarana perlindungan kesehatan seperti masker.
Wakil Bupati Berau, Gamalis, menilai perpanjangan BDR sangat krusial demi melindungi kesehatan para siswa.
Tingkat pencemaran udara, terutama tingkat PM2,5, dinilai masih berbahaya untuk aktivitas anak-anak di luar rumah.
“Sebaiknya diperpanjang karena masih pekat. PM 2,5 yang kita paling takutkan,” ungkap Gamalis. (*)
