BERAU TERKINI – Keterampilan menyumpit bagi masyarakat Kampung Dumaring, Kecamatan Talisayan, bukan sebatas permainan ketangkasan melesakkan anak panah ke sasaran.
Lebih dari itu, tradisi ini menyimpan pengetahuan mendalam tentang lingkungan, ketenangan jiwa, hingga harmonisasi manusia dengan hutan.
Nilai filosofis tersebut kembali dihidupkan dalam rangkaian Festival Rindu Dumaring (FRD) 2026 melalui program Belajar dari Sang Maestro – Menyumpit.
Rangkaian edukasi diawali pada 22 Agustus 2026 di Hutan Adat Patiraja.
Didampingi maestro menyumpit Dumaring, Sulaeman Gundung, para peserta tidak langsung memegang alat, melainkan diajak mengenal sumber daya alam serta bahan dasar pembuatan sumpit tradisional di habitat aslinya.

Pembelajaran berlanjut dalam sesi workshop pada 28 dan 29 Agustus 2026 yang diikuti 19 peserta.
Dalam sesi ini, Sulaeman Gundung bersama fasilitator membimbing anak-anak dan remaja melatih teknik dasar, mulai dari posisi tubuh, pengaturan napas, teknik meniup, hingga cara mengarahkan sumpit menuju sasaran secara presisi.
Sebagai ajang refleksi materi, sebanyak 10 peserta menjajal kemampuannya dalam lomba menyumpit pada 30 Agustus 2026.
Setiap peserta diberikan lima kali kesempatan melesakkan anak sumpit.
Penilaian berfokus pada ketepatan sasaran sebesar 50 persen, teknik menyumpit 25 persen, konsistensi 15 persen, serta kedisiplinan dan keselamatan 10 persen.
Melalui program ini, FRD menegaskan, akurasi menyumpit tidak lahir dari sekadar kekuatan fisik, melainkan dari kedisiplinan, fokus, dan pengendalian diri.
Pengenalan tradisi ini diharapkan menjadi jembatan agar generasi muda Dumaring tetap terikat pada akar budaya dan kelestarian alam lingkungannya. (*/Adv)
