BERAU TERKINI – Berangkat dari kesadaran bahwa pengetahuan budaya lokal tidak selalu tersimpan dalam dokumen tertulis, Festival Rindu Dumaring (FRD) 2026 menggelar rangkaian kegiatan bertajuk “Belajar dari Sang Maestro”.
Program ini dirancang sebagai ruang perjumpaan langsung antara para tetua pewaris adat Dumaring dengan generasi muda.
Kegiatan yang berlangsung sepanjang akhir Agustus 2026 di Balai LPHD Dumaring tersebut melibatkan anak-anak usia 7–12 tahun hingga remaja usia 13–20 tahun.
Para peserta diajak langsung mengamati, mencoba, dan memahami filosofi pengetahuan tradisional mulai dari seni anyaman, pembuatan suling bambu, ramuan herbal, menyumpit, hingga bela diri Bakuntau.
Sejumlah tokoh dan tetua adat dihadirkan sebagai sumber utama pembelajaran, di antaranya Jang Matius Ago (maestro anyaman), Nik Jampiring (maestro suling), Jang Lukas Duansah (maestro ramuan tradisional), Nik Sulaeman Gundung (maestro menyumpit), dan Nik Suardi (maestro Bakuntau).

Guna menjembatani proses edukasi agar materi mudah diserap oleh peserta awam, panitia turut menyiagakan fasilitator pendamping.
Fasilitator bertugas mengarahkan alur pembelajaran agar anak-anak tidak sekadar tahu cara membuatnya, tetapi juga memahami makna, nilai sejarah, serta hubungan budaya dengan kelestarian alam.
Rangkaian kegiatan telah dimulai sejak Technical Meeting pada 21 Agustus 2026, dilanjutkan pencarian bahan baku bersama di Tanah Patiraja pada 22 Agustus, sesi pembuatan karya pada 28–29 Agustus, dan diakhiri unjuk kemampuan melalui kompetisi pada 30 Agustus 2026.
Panitia FRD menekankan, pelestarian budaya tidak boleh berhenti hanya sebagai tontonan panggung, melainkan harus dipraktikkan dan diwariskan secara nyata.
“Budaya akan tetap hidup ketika pengetahuan di dalamnya terus dipelajari, dipraktikkan, dan diwariskan. Seorang maestro mungkin hanya membutuhkan satu generasi untuk mewariskan sebuah keterampilan, tetapi sebuah kebudayaan membutuhkan generasi penerus agar tetap hidup,” tulis panitia dalam keterangannya.
Melalui pendekatan interaktif ini, FRD berharap generasi muda Kampung Dumaring dapat menjadikan warisan leluhur sebagai bagian dari identitas mereka.
“Harapannya sederhana, setelah para maestro hari ini, tetap ada anak-anak Dumaring yang suatu saat nanti mampu berkata, ‘Saya tahu, saya pernah belajar, dan saya siap meneruskannya’,” pungkasnya. (*/Adv)
