BERAU TERKINI – Wakil Bupati Berau, Gamalis, meminta dukungan penguatan peralatan pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga tingkat kampung saat kunjungan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni ke Posko Penanganan Karhutla di Labanan, Rabu (26/8/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Gamalis menyampaikan, kondisi karhutla di Berau mulai menunjukkan tren penurunan.
Berdasarkan data yang dirilis BMKG, jumlah titik panas (hotspot) yang sebelumnya mencapai 439 titik kini menurun menjadi sekitar 51 titik.
“Alhamdulillah, per tanggal 24 Agustus, titik panas yang sebelumnya mencapai 439 kini tersisa sekitar 51 titik. Ini menunjukkan upaya penanganan yang dilakukan bersama mulai membuahkan hasil,” ujarnya.
Meski demikian, Gamalis menegaskan, tantangan pemadaman masih cukup besar, terutama di wilayah yang sulit dijangkau kendaraan pemadam kebakaran.
Menurutnya, banyak lokasi kebakaran berada jauh di dalam kawasan sehingga selang pemadam tidak mampu menjangkau sumber api.
“Kondisi di lapangan sering kali menyulitkan petugas. Ada lokasi kebakaran yang sangat jauh dan tidak bisa dijangkau armada pemadam. Karena itu, kami sangat mengharapkan adanya penguatan penanganan karhutla di tingkat kampung,” katanya.
Ia menilai pemerintah kampung dan masyarakat setempat merupakan garda terdepan dalam mendeteksi serta melakukan penanganan awal kebakaran sebelum api meluas.
Untuk itu, diperlukan dukungan peralatan pemadam berukuran kecil yang lebih mudah dibawa dan dioperasikan di daerah terpencil.
“Kami memohon bantuan peralatan pemadam yang lebih kecil dan fleksibel untuk kampung-kampung. Dengan peralatan tersebut, masyarakat dan relawan bisa bergerak lebih cepat ketika terjadi kebakaran,” jelasnya.
Selain kebutuhan peralatan, Gamalis juga menyoroti pentingnya dukungan bagi para relawan dan petugas yang terlibat dalam pemadaman.
Menurutnya, mereka kerap menghadapi keterbatasan logistik selama bertugas di lapangan.
“Kadang-kadang mereka harus bekerja berjam-jam di lokasi kebakaran dengan keterbatasan air minum maupun makanan. Beruntung masyarakat sering membantu menyediakan kebutuhan seadanya. Namun tentu perlu perhatian lebih terkait biaya operasional, konsumsi, hingga transportasi relawan,” ungkapnya.
Ia juga meminta perhatian terhadap pemenuhan alat pelindung diri (APD) bagi petugas pemadam, relawan, serta personel TNI dan Polri yang terlibat dalam penanganan karhutla.
“Masker khusus, helm, dan perlengkapan keselamatan lainnya sangat dibutuhkan. Ini penting pak untuk menjaga keselamatan petugas yang bekerja langsung di tengah asap dan panas api,” tegasnya.
Gamalis berharap dukungan dari Kementerian Kehutanan dapat memperkuat kapasitas penanganan karhutla di Berau, khususnya di tingkat kampung, sehingga kebakaran dapat ditangani lebih cepat dan tidak meluas. (*)
