BERAU TERKINI – Potensi Geopark Sangkulirang-Mangkalihat yang ada di Kabupaten Berau dan Kutai Timur tidak hanya terletak pada bentang alam dan kekayaan geologinya.

Ketua Tim Verifikator Geopark Sangkulirang-Mangkalihat, Prof Mega Fatimah Rosana, menilai warisan sejarah dan budaya di Kabupaten Berau juga memiliki peluang besar untuk menjadi daya tarik yang memperkuat identitas kawasan geopark.

Hal itu disampaikannya usai menyelesaikan rangkaian verifikasi lapangan selama lima hari di sejumlah geosite di Kabupaten Berau dan Kutai Timur.

Menurut Mega, konsep geopark tidak hanya bertumpu pada aspek geologi (geoheritage), tetapi juga mencakup warisan budaya (cultural heritage) dan keanekaragaman hayati (biodiversity).

Karena itu, berbagai situs budaya di Berau perlu mendapat perhatian lebih agar dapat terintegrasi dalam pengembangan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat.

WhatsApp Image 2026 07 13 at 14.11.44 2

“Kebetulan kami juga mengunjungi dua kesultanan di Berau. Itu merupakan bagian dari budaya yang bisa dikolaborasikan dalam pengembangan geopark. Nantinya bisa ada kerja sama untuk memperkuat edukasi mengenai sejarah kesultanan kepada masyarakat maupun wisatawan,” ujarnya.

Selain kesultanan, Mega menyoroti potensi kawasan Teluk Bayur yang dinilai menyimpan nilai sejarah tinggi.

Menurutnya, kawasan tersebut dapat dikembangkan menjadi destinasi wisata budaya dengan mengangkat jejak pertambangan, bangunan-bangunan tua, hingga sejarah perkembangan wilayah tersebut.

“Teluk Bayur bisa dieksplorasi lagi. Misalnya wisata sejarah tambang atau kawasan kota tua. Itu menjadi bagian dari budaya yang dapat memperkaya daya tarik geopark,” katanya.

Ia menjelaskan, budaya dalam konsep geopark tidak hanya berupa bangunan atau benda bersejarah. 

Tradisi masyarakat, kuliner khas, hingga berbagai warisan budaya tak benda juga menjadi unsur penting yang perlu dilestarikan.

“Geopark memiliki tiga pilar utama, yaitu geologi, budaya, dan keanekaragaman hayati. Budaya itu tidak hanya yang berwujud benda, tetapi juga yang tidak berwujud, seperti kuliner, tradisi, hingga kearifan lokal masyarakat,” jelasnya.

Menurut Mega, penguatan aspek budaya akan memberikan pengalaman yang lebih lengkap bagi wisatawan. 

Pengunjung tidak hanya menikmati panorama alam, tetapi juga memahami sejarah serta kehidupan masyarakat yang berkembang di kawasan tersebut.

Ia berharap pemerintah daerah bersama badan pengelola Geopark Sangkulirang-Mangkalihat dapat terus menggali dan mengembangkan potensi budaya lokal sebagai bagian dari upaya memperkuat identitas geopark.

“Kalau semua potensi ini dikembangkan secara bersama-sama, maka Geopark Sangkulirang-Mangkalihat tidak hanya dikenal karena keindahan alamnya, tetapi juga karena kekayaan sejarah dan budayanya. Itu yang akan menjadi nilai tambah bagi kawasan ini di masa mendatang,” tutupnya. (*)