BERAU TERKINI – Tim Nasional (Timnas) Jepang datang ke Piala Dunia 2026 dengan pundak yang tegak dan kepercayaan diri yang melambung tinggi.

Bukan lagi sekadar tim pembunuh raksasa yang mengandalkan keberuntungan, skuad Samurai Biru kini bertransformasi menjadi kekuatan yang ditakuti di panggung sepak bola dunia.

Sinyal kewaspadaan bagi para rival ini ditegaskan langsung oleh sang motor serangan, Takefusa Kubo.

Pemain berusia 25 tahun tersebut menyatakan bahwa Jepang telah memetik pelajaran mahal dari tragedi adu penalti melawan Kroasia di Qatar empat tahun lalu.

Bagi Kubo, kegagalan tersebut bukan akhir, melainkan titik balik kedewasaan taktik mereka.

“Kami merasa menjadi lebih percaya diri. Ini bukan hanya tentang hasil akhir, melainkan juga tentang cara kami bermain dan seberapa padu kami sebagai sebuah tim,” ujar Kubo tegas dalam wawancara resminya bersama FIFA.

Lepas dari Status ‘Anak Bawang’

Pada Piala Dunia 2022, Kubo berstatus sebagai pemain termuda di skuad Jepang saat masih berusia 21 tahun. Kini, bintang Real Sociedad tersebut memikul tanggung jawab besar sebagai pilar utama.

Rekor impresif di babak Kualifikasi Asia—di mana Jepang menjadi negara pertama yang mengunci tiket lolos ke Amerika Utara—menjadi bukti sahih betapa mengerikannya kolektivitas tim mereka saat ini.

Jepang tergabung di Grup F bersama kekuatan sepak bola Eropa dan Afrika, yaitu Belanda, Swedia, dan Tunisia. Namun, Kubo menegaskan mentalitas Jepang sudah jauh berubah. Mereka menghormati lawan, tetapi tidak lagi memiliki rasa takut.

Misi Menghapus Kutukan Sejarah

Sepanjang sejarah keikutsertaannya di Piala Dunia, Jepang belum pernah sekalipun menembus babak perempat-final. Langkah mereka selalu terhenti di Babak 16 Besar—sebuah torehan yang kerap disebut sebagai “kutukan” bagi sang raksasa Asia.

Kubo menilai, untuk melangkah lebih jauh di Amerika Utara, aspek detail kecil dan disiplin taktis harus dieksekusi dengan sempurna selama 120 menit laga berjalan, sebelum nasib ditentukan oleh drama adu penalti.

“Pemain depan memang dituntut memiliki kreativitas, tetapi saya percaya hal itu harus dibangun di atas disiplin dan pemahaman taktik tim yang matang,” tambah Kubo, merujuk pada kokohnya lini pertahanan Jepang yang memberi kebebasan baginya untuk mengobrak-abrik pertahanan lawan.

Dengan kombinasi disiplin tinggi khas Jepang dan magis kreativitas para pemain yang merumput di liga-liga top Eropa, Piala Dunia 2026 diprediksi akan menjadi panggung pembuktian bahwa Jepang layak sejajar dengan para kandidat juara dunia.