BERAU TERKINI — Wilayah Pulau Maratua saat ini dilaporkan sedang diguncang krisis air bersih yang cukup parah.

Kondisi pelik tersebut memaksa masyarakat lokal di beberapa kampung untuk memutar otak demi memenuhi kebutuhan dasar domestik mereka sehari-hari.

Menampung limpahan air hujan secara manual atau membeli pasokan air bersih dari Kampung Teluk Harapan kini menjadi dua pilihan solusi utama bagi warga.

Fenomena bertahan hidup di tengah kelangkaan air ini setidaknya harus dirasakan oleh penduduk di Kampung Teluk Alulu, Kampung Payung-payung, serta Kampung Bohe Silian.

Untuk mendapatkan pasokan air yang layak, warga setempat harus merogoh kocek cukup dalam dengan membeli air seharga Rp150 ribu per tandon kapasitas 1.200 liter.

Air bersih yang dijual kepada warga di Maratua. (Zuhri/BT)
Air bersih yang dijual kepada warga di Maratua. (Zuhri/BT)

Salah satu warga Kampung Teluk Alulu, Emma Sari, membenarkan, mayoritas tetangganya kini sangat bergantung pada air beli dan tadahan air hujan.

“Benar menadah air hujan untuk dapat air, kalau ke tempat saya (Teluk Alulu) pasti lihat setiap rumah ada tandon kuning atau oren yang besar buat nampung air,” ujarnya kepada Berauterkini, Selasa (19/5/2026).

Emma mengaku kurang mengetahui secara pasti sejak tahun berapa krisis air bersih ini mulai melanda kawasan kepulauan tersebut.

Namun, ia bersaksi bahwa warga, khususnya di Kampung Teluk Alulu, sudah terbiasa memanfaatkan air hujan semenjak dirinya lahir hingga menginjak bangku Sekolah Dasar (SD).

Masyarakat di kampung tersebut tercatat sudah bertahun-tahun memanfaatkan air hujan untuk segala macam aktivitas krusial.

Pasokan air langit itu diolah secara mandiri, mulai dari kebutuhan air minum, memasak makanan, mandi, hingga mencuci pakaian.

Sebenarnya, Kampung Teluk Alulu memiliki sebuah sumber air alternatif berupa sumur komunal yang diberi nama Bohe Naga.

Namun, debit air yang dihasilkan dari sumur tersebut berasa payau dan tidak layak untuk langsung dikonsumsi. 

Emma menjelaskan, sepengetahuannya, air di sumur tersebut merupakan hasil rembesan campuran antara air laut yang asin dan air dari dalam tanah.

“Sebenarnya ada sumur tapi sumur itu kaya air payau campuran air asin sama air dari tanah kayaknya ya,” katanya.

Apabila siklus alam sudah memasuki musim kemarau panjang, warga biasanya baru akan memanfaatkan air sumur Bohe Naga tersebut khusus untuk mencuci baju.

Sementara untuk kebutuhan konsumsi, masyarakat kini sedikit terbantu berkat adanya intervensi infrastruktur jalan darat yang menghubungkan antarkampung.

Karena akses konektivitas dari Kampung Teluk Alulu menuju Kampung Teluk Harapan sudah rampung dan dalam kondisi baik, warga memilih bermigrasi ke kampung tetangga untuk membeli air bersih.

“Karena jalanan dari Teluk Harapan ke Teluk Alulu sudah rampung, jadinya orang-orang kalau sudah kehabisan air pasti beli ke Teluk Harapan,” ungkapnya.

Menurut Emma, momen yang paling menyulitkan dari bencana krisis air bersih ini adalah ketika periode kemarau mulai menyengat pulau wisata tersebut.

Ia mengungkapkan, perangkat kampung dan warga setempat sebenarnya sudah pernah melaporkan kondisi memprihatinkan ini kepada pemerintah daerah.

Merespons laporan itu, pemerintah sejatinya telah bergerak membangun fasilitas penampungan air hujan berskala besar atau embung di wilayah mereka.

Namun sangat disayangkan, hingga detik ini bangunan fisik embung tersebut belum juga difungsikan sama sekali untuk mendistribusikan air bersih ke rumah-rumah warga. 

Ironisnya, fasilitas bernilai besar itu kabarnya kini justru beralih fungsi menjadi area bermain satwa liar.

“Jadi tempat mandi monyet,” cetus Emma singkat dengan nada kecewa.

Sebagai warga lokal yang sudah kenyang merasakan pahitnya kesulitan air bersih sejak kecil, ia menaruh harapan yang sangat besar kepada jajaran pemerintah daerah. 

Pemkab Berau diharapkan bisa segera mencarikan solusi permanen yang konkret agar warga tidak lagi bergantung pada air hujan, mengingat konsumsi air hujan dalam jangka panjang juga dinilai kurang baik untuk kesehatan tubuh.

“Harapannya ada solusi yang benar-benar bisa membantu warga Maratua supaya tidak kekurangan air bersih dan tidak lagi menadah air hujan untuk jadi sumber air utama mereka,” harapnya. (*)