BERAU TERKINI – Kasus anak sekolah meninggal karena sepatu kekecilan di Samarinda, Kaltim mendapat sorotan langsung oleh Menteri Sosial (Mensos) RI Saifullah Yusuf alias Gus Ipul.

Kasus itu dia pandang dari sisi keakuratan data bantuan pemerintah yang disalurkan langsung ke masyarakat.

Sebab dengan data yang akurat, bantuan yang diberikan akan dinilai lebih tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan warga miskin.

“Maka itu data yang akurat itu penting,” kata Gus Ipul dalam laporan detik.

Tangkapan layar kondisi orang tua korban, Ratnasari. (kaltim today)
Tangkapan layar kondisi orang tua korban, Ratnasari. (kaltim today)

Gus Ipul menegaskan Presiden RI Prabowo Subianto sejak awal meminta Kemensos mempertajam data anak dari keluarga yang membutuhkan bantuan pemerintah.

Kerja sama dengan pemda juga perlu dilakukan.

“Tidak mungkin Jakarta ini bisa menjangkau seluruh daerah di Indonesia. Maka itu kita kerja sama dengan pemerintah daerah,” tuturnya.

Gus Ipul juga menjelaskan soal program Pusat Kesejahteraan Sosial (Puskesos) yang ada di desa-desa. Puskesos diharapkan bisa menampung keluhan masyarakat.

“Kalau bisa kita tampung, kita jangkau, dan kita mendapatkan data kita tentu bisa melakukan bisa memberikan bantuan,” ungkapnya.

Adapun siswa SMK itu bernama Mandala Rizky Syaputra. Kabar duka tersebut viral di media sosial karena Mandala sebelumnya mengeluh memakai sepatu kekecilan.

Pihak sekolah menyebut Mandala sudah mendapat perhatian dari wali kelas sejak kelas X.

Kata pihak sekolah, bantuan diberikan kepada Mandala berupa seragam jurusan, perlengkapan sekolah, sembako, hingga uang sewa kontrakan.

“Sejak kelas X (sepuluh), Mandala sudah mendapat perhatian dari wali kelas saat itu. Bantuan berupa seragam jurusan dan perlengkapan sekolah sudah diberikan, Selain itu bantuan sembako sering juga diberikan, bahkan jika ada kendala dengan uang sewa kontrakan pun dimintai bantuan,” tulis SMK 4 Samarinda melalui akun Instagramnya.

Pada awal April lalu, Mandala masih hadir mengikuti pelajaran tapi dengan wajah yang tampak pucat. Guru PKN saat itu, kata pihak sekolah, menyarankan Mandala beristirahat di rumah.

Sejak saat itu, Mandala tidak pernah hadir lagi mengikuti pelajaran. Sang ibu, kata pihak sekolah, lalu datang ke sekolah meminta bantuan uang Rp 1.100.000 untuk biaya pengobatan Mandala.

Lalu, pada 20 April, pihak sekolah menerima pesan berisi gambar kaki dari Mandala yang membengkak melalui WhatsApp.

Keesokan harinya, sekolah mendapat kabar bengkak di kaki Mandala mulai kempis.

Pihak sekolah, wali kelas, bersama teman-teman akan memberikan sepatu baru untuk Mandala. Namun, pada 24 April, sekolah mendapat kabar duka Mandala telah berpulang.

“Kakaknya juga memberitahukan bahwa tidak ada dana untuk pemulasaraan jenazah,” tulisnya.