BERAU TERKINI — Kondisi sektor pertanian di Kabupaten Berau saat ini menghadapi tantangan besar akibat adanya sumber penghasilan lain yang memengaruhi fokus para petani.
Kepala Bidang Distribusi dan Cadangan Pangan Dinas Pangan Berau, Basri, menjelaskan, petani di Berau memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan dengan petani di Pulau Jawa atau Sulawesi.
Sebagian besar petani di Berau cenderung memiliki mata pencaharian ganda, sehingga tidak sepenuhnya fokus pada satu sektor.
Hal ini kemudian berdampak pada kurangnya minat menjadikan pertanian sebagai pekerjaan utama.
Fenomena ini semakin diperkuat dengan kecenderungan masyarakat usia produktif, khususnya anak muda, yang lebih memilih bekerja di sektor industri atau perusahaan.

Pekerjaan di perusahaan dinilai lebih menjanjikan karena memberikan penghasilan tetap setiap bulan.
Sementara, pendapatan dari bertani sering kali tidak menentu dan sangat bergantung pada kondisi cuaca yang sedang berlangsung.
Basri mengakui, sektor pertanian saat ini kalah bersaing dengan daya tarik perusahaan dalam menyerap angkatan kerja.
“Dia bisa jadi petani, tapi juga beternak, berkebun, bahkan kerja di perusahaan,” ujar Basri.
Faktor risiko seperti ancaman gagal panen akibat kekeringan di musim kemarau atau banjir saat hujan berkepanjangan menjadi pertimbangan utama bagi masyarakat untuk menjauh dari sektor ini.
Berbeda dengan sektor industri yang stabil, ketidakpastian hasil panen membuat profesi petani dipandang kurang aman secara finansial bagi generasi muda.
“Kita akui angkatan kerja kita kalah bersaing dengan perusahaan karena mereka lebih tertarik kerja di perusahaan dibanding mengolah lahan,” lanjutnya.
Menyikapi hal tersebut, Basri menegaskan perlunya langkah peremajaan di sektor pertanian sebagai kunci keberlanjutan sektor pangan di Kabupaten Berau.
Namun, pendekatan yang dilakukan tidak bisa lagi menggunakan cara-cara umum, melainkan harus ada pembaruan strategi khusus untuk menarik minat petani muda.
Salah satu langkah krusial adalah membekali petani dengan pengetahuan yang lebih maju dan sentuhan teknologi modern guna meningkatkan produktivitas serta efisiensi kerja di lahan.
Selain teknologi, dukungan berupa pelatihan berkelanjutan, pendampingan intensif, hingga pemberian insentif dinilai sangat penting agar generasi muda mulai melirik dan menekuni sektor pertanian secara serius.
Basri tetap merasa optimistis pertanian di Berau dapat berkembang pesat dan tidak lagi dipandang sebelah mata jika dikelola dengan sistem yang lebih baik dan modern.
“Tidak sekadar menanam, tapi juga ada sentuhan teknologi untuk meningkatkan hasil,” ungkap Basri.
Melalui dorongan inovasi dan perubahan paradigma kerja, diharapkan sektor pangan daerah dapat diperkuat oleh tangan-tangan kreatif dari generasi muda yang siap bertransformasi menuju pertanian modern yang lebih menguntungkan.
“Kalau kita bisa dorong dengan teknologi dan sistem yang lebih baik, saya yakin anak muda bisa tertarik,” pungkasnya. (*)
