BERAU TERKINI – Langit pesisir Berau beberapa waktu terakhir dipenuhi lalu lintas pesawat nirawak.

Bukan untuk pariwisata atau pemetaan biasa, melainkan untuk memantau kehidupan salah satu satwa laut paling ikonik di dunia yakni penyu.

Hasilnya mengejutkan. Tim gabungan konservasi berhasil mengidentifikasi sedikitnya 913 individu penyu di kawasan pesisir Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kepulauan Derawan dan Perairan Sekitarnya (KKP3K KDPS), Berau, Kaltim.

Temuan tersebut mempertegas bahwa perairan Berau masih menjadi salah satu habitat penyu terpenting di Indonesia, bahkan dunia.

Pemantauan dilakukan oleh Yayasan Konservasi Alam Nusantara bersama Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Timur, Balai Pengelolaan Kelautan Pontianak, serta kelompok masyarakat pegiat konservasi dengan dukungan Program SOMACORE.

Survei dilakukan di sejumlah wilayah penting habitat penyu seperti Pulau Mataha, Bilang-bilangan, Sangalaki, Derawan, Teluk Sulaiman hingga Balikukup..

Berau sendiri dikenal sebagai bagian penting bentang laut Sulu-Sulawesi di kawasan Segitiga Terumbu Karang dunia dan menjadi habitat utama penyu hijau terbesar di Indonesia.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Timur, Irhan Hukmaidy, mengatakan hasil pemantauan menunjukkan sebagian besar habitat peneluran penyu di Berau masih berada dalam kondisi sangat baik.

“Berau memiliki nilai ekologis yang sangat penting, tidak hanya bagi Kalimantan Timur tetapi juga dunia. Habitat peneluran penyu di sejumlah lokasi masih sangat baik dan harus terus dijaga bersama,” ujarnya.

Dari 27 titik pemantauan habitat, sebanyak 26 titik masuk kategori hijau atau sangat sesuai untuk lokasi peneluran penyu.

Pantai-pantai tersebut memiliki karakter pasir yang ideal, vegetasi alami yang masih terjaga, serta minim gangguan manusia.

Pulau Mataha menjadi salah satu lokasi dengan nilai habitat tertinggi. Pulau yang tidak berpenghuni itu dinilai sangat ideal bagi penyu bertelur karena bebas polusi cahaya dan aktivitas manusia.

Pesawat nirawak yang digunakan mendukung upaya pelestarian penyu di KKP3K KDPS. (Dok. YKAN)
Pesawat nirawak yang digunakan mendukung upaya pelestarian penyu di KKP3K KDPS. (Dok. YKAN)

Namun ancaman tetap ada. Beberapa lokasi padat aktivitas seperti Pulau Derawan dan Balikukup masih menghadapi tekanan berupa sampah pesisir, pencahayaan buatan, hingga aktivitas manusia yang berpotensi mengganggu penyu saat naik bertelur.

Kepala Balai Pengelolaan Kelautan Pontianak, Syarif Iwan Taruna Alkadrie, mengatakan teknologi tersebut membuat pemantauan lebih akurat dan efisien.

“Dengan dukungan teknologi, pemantauan bisa dilakukan lebih luas dan detail bahkan di lokasi yang sulit dijangkau. Data ini penting untuk mendukung pengelolaan kawasan konservasi berbasis ilmiah,” katanya.

Citra udara yang dihasilkan memiliki resolusi sangat tinggi, berkisar antara 1,5 hingga 5 sentimeter. Tingkat ketelitian itu memungkinkan tim membedakan penyu dengan objek lain di laut secara akurat.

Manajer Senior Perlindungan Laut Yayasan Konservasi Alam Nusantara, Yusuf Fajariyanto, menilai temuan ratusan penyu tersebut menjadi sinyal positif bagi keberlanjutan ekosistem laut Berau.

“Temuan ratusan individu penyu memperlihatkan bahwa wilayah ini merupakan habitat penting yang harus terus dijaga bersama. Konservasi tidak bisa hanya dilakukan pemerintah atau lembaga konservasi, tetapi membutuhkan keterlibatan masyarakat pesisir,” jelasnya.

Tak hanya kondisi habitat yang menggembirakan, survei juga menunjukkan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap perlindungan penyu.

Sebanyak 75 nelayan dari Balikukup, Derawan, Maratua, Teluk Sulaiman, dan Biduk-Biduk diwawancarai dalam survei tersebut. Hasilnya, 98 persen responden mengetahui bahwa perburuan penyu merupakan tindakan ilegal.

Mayoritas masyarakat juga menilai keberadaan penyu penting bagi keseimbangan ekosistem laut sekaligus mendukung sektor pariwisata daerah.