BERAU TERKINI – Bank Tabungan Negara (BTN) Cabang Berau terus memperluas akses kepemilikan hunian bagi masyarakat melalui berbagai program inovatif.

Salah satu yang menjadi andalan saat ini adalah Kredit Program Perumahan (KPP).

KPP adalah skema pembiayaan yang dirancang khusus bagi para wirausahawan yang ingin memiliki rumah dengan bunga rendah dan prosedur yang dipermudah.

Kepala Cabang BTN Berau, Prayogo Dimas Wibisono, menjelaskan, persyaratan angsuran untuk program wirausaha ini sangat fleksibel. 

Penilaian kelayakan kredit akan dibuktikan melalui survei lokasi usaha, pengecekan pembukuan, serta analisis rekening koran calon debitur. 

Kepala BTN Cabang Berau, Prayogo Dimas Wibisono.
Kepala BTN Cabang Berau, Prayogo Dimas Wibisono.

Menariknya, bagi wirausahawan yang belum memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB) atau badan hukum, pihak BTN siap memberikan pendampingan dalam proses pembuatannya.

“Kalau orang belum punya NIB ya nanti kita buatin,” ujar Prayogo kepada Berauterkini, Kamis (5/3/2026).

Mengenai skema pembiayaan, bunga yang ditawarkan pada program KPP ini sangat kompetitif, yakni berada di angka 6 persen.

Jika masa angsuran melebihi lima tahun, bunga akan menyesuaikan menjadi 10 persen yang bersifat tetap hingga masa kredit berakhir atau lunas. 

Prayogo mengakui, serapan program ini di Berau masih tergolong kecil karena faktor informasi yang belum tersebar luas sejak peluncurannya di akhir tahun lalu.

Selain menyasar pelaku usaha, BTN juga memiliki program Manfaat Layanan Tambahan (MLT) BPJS Ketenagakerjaan. 

Program ini terbuka bagi pegawai dari sektor mana pun, asalkan mereka tercatat sebagai peserta aktif BPJS Ketenagakerjaan. 

Keunggulan utama MLT adalah suku bunganya yang sangat ringan, yaitu hanya 3 persen di atas BI rate.

“Sama seperti tadi KPP juga ya, bedanya dia khusus untuk pegawai yang gaji transfer, yang memang tiap bulan dia dapat gaji dan BPJSTK-nya aktif,” jelas Prayogo.

Meski MLT sudah eksis sejak 2016, Prayogo menyebut masih banyak pekerja yang belum mengoptimalkan manfaat ini. 

Padahal, cakupan program ini sangat luas, mulai dari rumah subsidi seharga Rp182 juta hingga kategori komersial di atas Rp500 juta. 

Hal ini memungkinkan semua segmen pekerja, mulai dari Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) hingga kelas menengah, untuk bisa memiliki hunian layak.

Prayogo optimistis dengan potensi pasar perumahan di Bumi Batiwakkal yang terus menunjukkan tren positif. 

Penyerapan program ini diharapkan akan terus meningkat seiring dengan pertumbuhan ekonomi daerah. 

“Berarti kan pasarnya semuanya masuk dari mulai yang MBR sampai yang kelas menengah. Berau itu masih bakal tumbuh kencang,” pungkasnya. (*)