BERAU TERKINI – Lonjakan drastis jumlah pengunjung di musim liburan tahun ini menyisakan cerita unik sekaligus memprihatinkan di pesisir selatan Berau.

Akibat membludaknya wisatawan yang datang tanpa persiapan matang, banyak pelancong yang harus menelan pil pahit karena kehabisan tempat menginap. 

Fenomena ini memaksa sejumlah wisatawan untuk beristirahat di teras masjid di wilayah Bidukbiduk karena seluruh homestay dan penginapan di sekitar lokasi wisata telah terisi penuh.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau bergerak cepat menanggapi situasi ini. 

Staf Teknis sekaligus Pengawas Kepariwisataan Disbudpar Berau, Andi Nursyamsi, melalui Adyatama Kepariwisataan dan Ekonomi Kreatif Ahli Pertama, Ing Ta Wijaya, mengungkapkan, pihaknya terus berkoordinasi dengan aparat kampung untuk menangani kendala tersebut. 

Kondisi ini diduga kuat terjadi karena banyak wisatawan, terutama yang berasal dari luar daerah, nekat berangkat tanpa melakukan pemesanan akomodasi terlebih dahulu.

Melihat tidak adanya pilihan lain bagi wisatawan untuk berteduh, pihak pemerintah kampung melalui DKM Masjid Besar An-Nur Kecamatan Bidukbiduk akhirnya mengambil kebijakan humanis. 

Teras masjid dipersilakan untuk dimanfaatkan sebagai tempat istirahat sementara bagi mereka yang telanjur terjebak dalam situasi over kapasitas. 

“Kampung melalui DKM masjid mengarahkan wisatawan agar dapat menggunakan masjid sebagai tempat istirahat sementara dikarenakan akomodasi yang penuh di Bidukbiduk,” ungkap Wijaya kepada Berauterkini, Rabu (25/3/2026).

Meski kejadian ini menjadi catatan merah, Wijaya menilai tidak bisa menyalahkan satu pihak.

Masalah klasik ini selalu muncul setiap tahunnya saat libur panjang, di mana daya tampung destinasi wisata pesisir tidak sebanding dengan antusiasme masyarakat yang datang secara bersamaan. 

Fenomena ini pun akan menjadi bahan evaluasi serius antara para pemangku kepentingan pariwisata dan pihak terkait lainnya agar di masa depan distribusi informasi mengenai ketersediaan penginapan bisa lebih transparan.

Selain masalah tempat tinggal, kepadatan pengunjung juga terlihat nyata di destinasi unggulan seperti Labuan Cermin. 

Dengan area dermaga yang terbatas, penumpukan orang di satu titik menimbulkan kekhawatiran terkait aspek keamanan dan kenyamanan. 

Pihak Disbudpar terus melakukan mitigasi awal bersama pemerintah kampung, BUMK, dan pengelola setempat untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan di tengah padatnya kerumunan.

“Dengan ukuran dermaga Labuan Cermin yang ada tersebut dipadati oleh orang Berau dan sekitarnya, kami berusaha mengantisipasi hal hal yang tidak diinginkan, berkolaborasi dengan pemerintah kampung, BUMK dan pengelola Labuan Cermin,” jelasnya. 

Upaya antisipasi ini dilakukan secara intensif mengingat Labuan Cermin tetap menjadi daya tarik utama yang paling sulit dikontrol jumlah kunjungannya saat musim puncak liburan.

Sebagai langkah jangka pendek, Disbudpar Berau telah membentuk grup komunikasi di setiap daya tarik wisata unggulan. 

Grup ini berfungsi sebagai kanal pelaporan cepat jika terjadi kendala di lapangan, mulai dari masalah akomodasi hingga kebutuhan mendesak lainnya. 

Melalui sistem koordinasi ini, dinas berupaya memberikan bantuan dan solusi dari jauh agar kendala yang dihadapi wisatawan dapat segera teratasi.

Wijaya menekankan pentingnya kolaborasi berkelanjutan untuk memperbaiki ekosistem pariwisata di Berau. 

“Tapi memang hal ini menjadi catatan dan evaluasi bagi kami agar dapat lebih bekerja sama dan berkolaborasi dengan stakeholder dan pihak-pihak terkait terutama dalam konteks akomodasi ini. Apakah dari mereka ada kendala, jadi kendala-kendala yang disampaikan bisa kami bantu dari jauh,” pungkasnya. (*)