BERAU TERKINI – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau gencar memberikan edukasi mengenai etika berwisata menjelang musim libur Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah.
Upaya ini dilakukan untuk memastikan tingginya antusiasme pengunjung tidak berdampak buruk pada kelestarian destinasi wisata di Bumi Batiwakkal.
Plt Sekretaris Disbudpar Berau, Samsiah Nawir, menegaskan, esensi dari berwisata bukan sekadar menikmati keindahan visual, melainkan juga tentang bagaimana menghargai alam, menghormati budaya lokal, dan menjaga hubungan baik dengan masyarakat setempat.
Strategi ini merupakan bagian dari upaya mewujudkan pariwisata yang berkelanjutan di Kabupaten Berau.
“Mari dukung pariwisata berkelanjutan dengan menjadi wisatawan yang peduli, sadar, dan bertanggung jawab,” ujar Samsiah, Jumat (27/2/2026).

Salah satu penekanan utama adalah kepedulian terhadap kebersihan lingkungan.
Wisatawan diimbau untuk tidak membuang sampah sembarangan guna menjaga estetika lokasi wisata.
Selain itu, aspek perlindungan ekosistem juga menjadi sorotan, di mana pengunjung dilarang menyentuh atau mengganggu satwa, dan tidak memetik tanaman secara sembarangan.
Selain itu, pengunjung wajib menjaga keutuhan terumbu karang dengan mematuhi Standar Operasional Prosedur (SOP) yang berlaku di setiap daya tarik wisata.
Disbudpar juga memberikan saran praktis terkait kelestarian lingkungan dengan mengajak wisatawan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai melalui kebiasaan membawa botol minum (tumbler) dan tas belanja sendiri.
Selain menjaga alam, aspek sejarah pun tidak luput dari perhatian.
Samsiah mengingatkan agar situs sejarah tidak dicederai oleh tangan-tangan jahil.
“Tidak merusak situs atau cagar budaya, tidak melakukan graffiti atau vandalisme,” tegasnya.
Bagi pencinta petualangan, Disbudpar menyarankan penggunaan jasa pemandu lokal, terutama untuk destinasi wisata minat khusus, seperti menyelam bersama hiu tutul di Talisayan.
Kehadiran pemandu profesional sangat penting untuk memastikan keamanan wisatawan sekaligus menjaga agar aktivitas manusia tidak mengganggu habitat alami satwa.
Terakhir, di tengah tren media sosial, Samsiah mengingatkan agar para pembuat konten tetap mengutamakan keselamatan dan etika lingkungan.
Ia berharap nilai sebuah konten tidak mengorbankan keamanan diri sendiri maupun kelestarian alam.
Melalui serangkaian imbauan ini, pemerintah daerah menaruh harapan besar pada kesadaran setiap individu yang datang berkunjung.
“Harapannya kepada wisatawan, jadilah wisatawan yang cerdas dan bertanggung jawab,” tutupnya. (*)
