TANJUNG REDEB – Cuaca panas ekstrem hingga 36,5 derajat yang melanda Bumi Batiwakkal menjadi peringatan potensi terjadinya bencana kebakaran hutan dan lahan.
Peringatan itu disampaikan Bupati Berau, Sri Juniarsih, kala menghadiri pertemuan bersama para pejabat daerah dalam membahas penyusunan dokumen kontingensi penanggulangan bencana banjir di Kantor Bupati Berau, Selasa (29/7/2025).
Dia mengatakan, panas dengan suhu tersebut membuat Berau menjadi daerah terpanas di Indonesia saat ini.
“Luar biasa panasnya,” kata Bupati Sri.
Berdasarkan pengalamannya, panas matahari saat ini membuat sejuknya kipas angin dan air conditioner (AC) tak mempan meredam panas dari matahari.
“Kipas itu malah panas anginnya. Saya lihat indikatornya, 37 derajat celcius,” keluhnya.
Kondisi ini dia khawatirkan akan merembet ke bencana karhutla. Hal itu belajar pada masa kepemimpinan Bupati Berau 2015-2020 Muharram dalam penanganan karhutla yang menemui banyak tantangan.
Selain dedaunan kering yang sensitif terhadap asap dan api, tanah yang gersang pun berpotensi menyala lebih lama di lahan yang terbakar.
Situasi tersebut membuat pemerintah saat itu kewalahan mengatasi persoalan karhutla. Belum lagi perilaku oknum nakal yang dengan sengaja melakukan pembakaran hutan.
“Kita harus waspada dengan kondisi ini,” ungkapnya.
Bupati perempuan pertama di Berau ini menyatakan dampak karhutla bisa sampai pada potensi terjadinya kelumpuhan ekonomi daerah.
Aktivitas impor maupun ekspor barang akan terhambat lantaran pesawat tak akan diperbolehkan terbang. Pun akan melemahkan aktivitas penumpang di Bandara Kalimarau.
“Ekonomi kita bisa lumpuh,” bebernya.
Oleh karenanya, dia meminta seluruh pihak untuk saling bekerja sama dalam menjaga hutan agar tak terbakar.
Selain itu, saling membantu dan mengingatkan agar tak melakukan pembakaran hutan untuk perkebunan saat ini.
Dia khawatir, satu titik api nantinya akan merembet pada lahan yang tak menjadi target penanaman bibit perkebunan maupun pertanian.
“Masyarakat silakan beri peringatan agar oknum-oknum ini tak membakar lahan,” pesan dia.
Peran masyarakat tersebut akan meringankan tugas BPBD Berau dalam mengatasi kebakaran hutan. Termasuk masyarakat sadar api yang saat ini telah aktif di setiap kampung.
“Karena yang dirugikan itu kita semua,” tegasnya. (*/Adv)
