BERAU TERKINI – Meningkatnya kewaspadaan terhadap virus campak menuntut masyarakat untuk lebih mengenali gejala awal penyakit ini sejak dini.
Epidemiolog Kesehatan Dinas Kesehatan Berau, Tuti Handayani, menjelaskan secara detail bagaimana ciri-ciri seseorang yang mulai terpapar virus yang sangat menular tersebut.
Gejala awal yang biasanya dirasakan pasien adalah demam yang diikuti dengan munculnya ruam makulopapular atau bintik kemerahan pada kulit.
Selain itu, penderita sering kali mengalami batuk pilek, mata kemerahan atau konjungtivitis, gatal-gatal, hingga dalam beberapa kasus disertai dengan diare.
“Biasanya kalau pasien datang dengan demam dan ruam makulopapular saja, itu sudah bisa kita curigai sebagai campak,” ungkap Tuti, Jumat (13/3/2026).
Seseorang sudah bisa dikategorikan sebagai suspek campak apabila mengalami kombinasi demam dan ruam tersebut.
Penting untuk dipahami, virus ini menyebar dengan sangat cepat melalui udara atau droplet, seperti percikan air liur saat penderita batuk dan bersin, maupun melalui sentuhan pada benda yang telah terkontaminasi.
Menyikapi cara penularannya, Dinas Kesehatan menganjurkan masyarakat untuk membatasi kontak fisik dan mewajibkan penggunaan masker bagi mereka yang sudah menunjukkan gejala.
Langkah ini dianggap krusial untuk memutus rantai penyebaran di lingkungan keluarga maupun tempat umum.
“Karena dia kan penularannya ini lewat bersin, percikan air liur, seperti itu,” jelas Tuti.
Terkait proses pemulihan, pengobatan yang diberikan biasanya bersifat simtomatis atau disesuaikan dengan gejala yang muncul.
Jika pasien mengalami demam, maka diberikan obat penurun panas, begitu pula jika disertai batuk dan pilek. Selain itu, pemberian Vitamin A menjadi bagian penting dalam prosedur pengobatan guna mengurangi tingkat keparahan, mencegah komplikasi, meningkatkan kekebalan, hingga menghindari risiko kebutaan.
Tubuh pada dasarnya akan melawan virus tersebut secara mandiri, namun tantangan besar muncul bagi mereka yang tidak memiliki riwayat imunisasi.
Tuti mengingatkan, orang yang belum divaksin memiliki risiko tingkat keparahan yang jauh lebih tinggi dibandingkan mereka yang sudah mendapatkan imunisasi.
“Sampai virusnya ini bisa dilawan oleh tubuhnya sendiri, tapi pada orang yang tidak tervaksin, risikonya dia tingkat keparahannya biasanya lebih tinggi,” tambahnya.
Meski orang yang sudah divaksin tetap memiliki kemungkinan terpapar jika daya tahan tubuhnya sedang menurun, namun tingkat keparahan dan risiko menularkannya ke orang lain akan jauh lebih rendah.
Vaksinasi bertujuan memberikan imunitas agar proses penyembuhan berlangsung lebih cepat.
“Tapi kalau saat itu anak itu imunitasnya sedang rendah, dia bisa kena, tapi lebih cepat sembuhnya dibandingkan yang belum pernah divaksin,” pungkasnya. (*)
