BERAU TERKINI – Di pesisir Tanjung Batu, Kecamatan Pulau Derawan, seni tradisi musik dan tari Suku Bajau masih berdenyut kencang, dijaga oleh semangat seorang nenek.
Dia adalah Saenah, yang akrab disapa Lona, pengurus sanggar musik dan tari Linggisan.
Namun, di tengah kebugaran dan semangatnya yang tak luntur saat mengiringi penari menjemput tamu ke Pulau Derawan, Lona dilanda keresahan besar: atensi generasi muda terhadap musik tradisional hampir nihil.
Warisan seni yang menjadi nyawa bagi tarian ikonik Dalling dan Igal ini terancam pudar.
Lona yang kini berusia 64 tahun merasa, di usianya yang semakin renta, peran generasi muda sangat dibutuhkan untuk memastikan budaya musik pesisir ini terus lestari.
“Biar bagaimanapun, kami membutuhkan peran kawula muda untuk melestarikan budaya ini. Ini warisan Suku Bajau,” kata Lona.
Lona memaparkan ironi yang terjadi di lapangan. Di tingkat sekolah, pelestarian tarian Dalling dan Igal sudah masuk kegiatan ekstrakurikuler yang aktif di akhir pekan.
Namun, nasib berbeda menimpa musik pengiringnya.
“Padahal itu satu kesatuan, semuanya harus dilestarikan,” ucap Lona.
Rata-rata, sekolah hanya menggunakan musik yang sudah direkam, dalam format kaset atau MP4, untuk latihan menari.
Tidak ada latihan bermusik tradisional secara langsung. Padahal, musik, termasuk alat musik Balintangan atau Gamblang, adalah penentu not dan feel seni tersebut.
Keterbatasan ekonomi memaksa Lona dan sanggarnya berinovasi.
Alat musik Balintangan, alat utama penentu not yang dimainkan selain Gong, yang ia pakai saat ini adalah kreasi rumahan putranya.
“Ini alat sederhana yang kalau sudah peyot, berubah lagi nadanya. Harusnya bisa dari kuningan,” keluhnya.
Alat Balintangan itu dibuat dari potongan tabung gas melon bekas yang disusun hingga membentuk tangga nada.
Sebuah bukti totalitas dan kecintaan yang luar biasa, namun juga cerminan minimnya dukungan terhadap seniman tradisi.
Saat tampil, Lona hanya ditemani enam personel lain yang seluruhnya adalah keluarganya: keponakan, sepupu, anak, dan cucu. Seluruh beban pelestarian budaya seolah diletakkan di pundak satu keluarga ini.
Harapan Terakhir
Meskipun harus berjuang dengan alat musik bekas, semangat Lona tak surut. Ia menyatakan kesediaannya untuk turun langsung ke sekolah-sekolah, mengisi ekstrakurikuler, dan mengajarkan musik tradisional kepada murid-murid.
“Siap saja bila kami dibutuhkan. Kami yang akan ajarkan langsung,” tuturnya.
Terakhir, Lona berharap pemerintah Kabupaten Berau melalui dinas terkait kebudayaan dapat memberikan bantuan nyata dan perhatian serius.
“Semoga kami diperhatikan,” harapnya.
Bantuan itu, bukan hanya tentang alat musik yang layak, tetapi juga pengakuan terhadap perjuangan keras para penjaga terakhir warisan budaya Suku Bajau. (*)
