BERAU TERKINI – Wakil Bupati Berau, Gamalis, menindaklanjuti langsung laporan masyarakat di Kampung Tumbit Dayak, Sambaliung, yang mengeluhkan hingga kini tidak ada jaringan listrik dari PT PLN.
Tak datang sendiri, perwakilan dari PT PLN UP3 Berau pun diajak untuk memastikan keluhan masyarakat dapat dijawab langsung oleh perusahaan pelat merah tersebut.
Tidak direncanakan sebelumnya, pertemuan itu murni kerja tanggap pemerintah dalam menyikapi keluhan masyarakat.
Wabup Gamalis menegaskan pentingnya pemenuhan kebutuhan dasar bagi masyarakat kampung di luar air dan infrastruktur jalan.
“Listrik ini juga menjadi kebutuhan dasar bagi masyarakat,” kata Gamalis.
Mewakili pemerintah daerah, Gamalis menyadari masih terdapat beberapa titik di kampung yang belum dialiri listrik.
Padahal listrik tersebut telah lebih dulu dinikmati masyarakat perkotaan, seperti Tanjung Redeb, Gunung Tabur, Sambaliung, dan Teluk Bayur.
“Memang ada beberapa titik yang belum dialiri listrik, ini PR kita,” ungkapnya.
Gamalis mendorong PLN untuk dapat segera membangun Saluran Udara Tegangan Menengah (SUTM) sebagai sarana memberikan listrik langsung ke permukiman penduduk.
Selain digunakan untuk penerangan rumah, jaringan listrik tersebut dapat difungsikan sebagai penerangan jalan umum guna menambah keamanan dan keselamatan warga kala beraktivitas pada malam hari.
“Saya yakin insya Allah ini bisa terealisasi,” ujarnya
Sementara itu, Manajer PLN ULP Tanjung Redeb, Clif Salomo, mewakili Manajer PLN UP3 Berau, Rizki Ramdan Yusuf, mengungkapkan, pemenuhan kebutuhan listrik masyarakat dapat disanggupi oleh manajemen PLN melalui program listrik masuk desa.
Pihaknya pun akan memasukkan pembangunan SUTM tersebut melalui koordinasi bersama Dinas ESDM Kaltim. Sehingga, memungkinkan pemerintah dapat membantu proses pembangunan SUTT maupun SUTM.
“Iya bangun jaringan, spesifikasi kontruksi dari PLN nanti, setelah selesai serah terima operasi ke PLN,” ucap Clif.
Dari laporan warga, kata Clif, pihaknya menerima informasi penerangan listrik diberikan melalui jaringan yang dikelola mandiri oleh masyarakat dengan nilai yang ditentukan secara pribadi oleh pemilik genset.
“Ada juga yang pakai genset mandiri. Nyala hanya selama 6 jam saat malam hari,” bebernya.
Dirinya berharap, program tersebut dapat dukungan dari perusahaan yang beroperasi di sekitar kampung tersebut. Harapannya dapat membantu memenuhi kebutuhan pembangunan yang dirancang oleh PLN nantinya.
“Memungkinkan melalui program CSR perusahaan,” tutup Clif. (*/Adv)
