BERAU TERKINI — Produksi sampah di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Bujangga selama bulan Ramadan tahun ini terpantau belum mengalami lonjakan yang terlalu signifikan.
Meski biasanya momen Ramadan identik dengan peningkatan konsumsi rumah tangga, volume sampah yang masuk ke TPA hingga saat ini masih berada dalam batas yang terkendali.
Pada hari-hari biasa, volume sampah harian rata-rata mencapai 151 ton.
Plt Kepala Bidang Kebersihan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Berau, Irwadi, menjelaskan, saat ini peningkatan baru berada di angka 1-5 persen.
Sampah yang masuk tersebut masih didominasi oleh sisa makanan dan material plastik.
“Pastinya 2 jenis itu yang paling menonjol kelihatan,” ungkap Irwadi, kepada Berauterkini, Senin (23/2/2026).
Guna mengantisipasi potensi lonjakan volume sampah hingga hari raya nanti, DLHK telah menyiapkan langkah strategis berupa penambahan frekuensi ritasi pengangkutan.
Selain itu, upaya preventif juga terus dilakukan melalui pengeluaran surat edaran yang berisi imbauan agar masyarakat lebih bijak dalam memproduksi sampah selama bulan puasa.
“Kami mengimbau masyarakat itu untuk tidak banyak memproduksi sampah, mengurangi konsumsi plastik yang dipakai,” ujar Irwadi.
Ia menekankan pentingnya berbelanja sesuai kebutuhan dan menghindari konsumsi makanan berlebihan agar kemasan plastik tidak menumpuk menjadi sampah baru.
Tantangan besar yang dihadapi saat ini adalah fasilitas pengelolaan sampah di Berau yang dinilai masih belum memadai.
Hingga kini, masyarakat masih sangat mengandalkan TPA Bujangga sebagai tumpuan utama.
Upaya pengurangan sampah sejauh ini baru mencapai angka 11 persen, yang dilakukan melalui bantuan bank sampah, pengepul, rumah kompos, serta Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R).
“Kalau dibilang memadai belum sebenarnya, kita kan sekarang itu masih mengandalkan TPA,” akunya.
Padahal, sesuai dengan peraturan perundang-undangan, sampah yang dibuang ke TPA seharusnya hanyalah berupa residu atau sampah yang sudah benar-benar tidak bisa lagi diolah dan tidak memiliki nilai ekonomis.
Terkait target nasional dari Jakstranas 2025 yang mematok pengurangan sampah sebesar 30 persen, Irwadi mengakui capaian tersebut belum terpenuhi.
Sebagai langkah perbaikan ke depan, program TPS3R mulai diperkuat.
Salah satunya yang kini telah berjalan di Pulau Derawan serta optimalisasi bank sampah di tingkat RT dan kelurahan.
“Tujuan akhirnya adalah untuk mengurangi sampah yang dibuang ke TPA,” ungkapnya.
Ia kembali mengajak warga untuk lebih peduli terhadap lingkungan dengan meminimalisir penggunaan plastik sekali pakai dan lebih sering memanfaatkan bahan-bahan yang dapat didaur ulang.
Kesadaran untuk tidak menggunakan barang sekali pakai lalu buang menjadi kunci utama keberhasilan pengelolaan sampah daerah.
“Minta tolong teman-teman agar terus menghimbau kepada masyarakat untuk selalu menjaga kebersihan, terus mengurangi produksi sampah. Bisa kok kita mengurangi produksi sampah seperti yang saya sebutkan tadi,” pungkas Irwadi. (*)
