BERAU TERKINI – UPTD Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kepulauan Derawan dan Perairan Sekitarnya (KKP3K KDPS) Berau membantah kabar bahwa monitoring kelautan hanya dilakukan sekali dalam sebulan.
Sebelumnya, mencuatnya aktivitas penangkapan tak ramah lingkungan karena minimnya pengawasan dari KKP3K KDPS.
Plh Kepala UPTD KKP3K KDPS Berau, Didik Riyanto, menegaskan, pemantauan kawasan laut dilakukan secara rutin dan jauh lebih intensif, baik di wilayah utara maupun selatan Perairan Berau.
Dia menjelaskan, monitoring kawasan konservasi laut sebenarnya dilakukan hingga tujuh kali dalam sebulan dan terbagi dalam dua wilayah.
“Monitoring kawasan konservasi di utara itu sekitar empat kali dalam sebulan. Di wilayah selatan tiga kali sebulan,” ungkapnya, Senin (24/11/2025).
Didik merinci, pemantauan di wilayah utara dilakukan langsung oleh UPTD kawasan konservasi.
Sementara di wilayah selatan dilakukan oleh UPTD bersama kelompok masyarakat dan aparat terkait.
“Di selatan itu kami bersama kelompok masyarakat perlindungan, ada Porlika, juga melibatkan polisi dan Babinsa setempat,” tambahnya.
Selain itu, Didik menyebut monitoring tersebut didukung oleh berbagai sumber pendanaan.
Untuk wilayah utara, monitoring berasal dari Global Konservasi dan APBD.
Sedangkan di wilayah selatan, kegiatan pemantauan juga ditambah dari APBD Perubahan Pemprov Kalimantan Timur, sehingga totalnya menjadi empat kali dalam sebulan.
Menurutnya, kegiatan monitoring selama ini memang berjalan intensif, namun kurang terekspos ke publik.
“Kami terkadang dianggap tidak melakukan pengawasan. Padahal, setiap kegiatan kami selalu berkoordinasi dengan instansi terkait, seperti TNI AL, Polairud, dan Polsek setempat,” jelas Didik.
Dari hasil monitoring tersebut, pihaknya sempat berhasil menertibkan sejumlah nelayan dari luar daerah yang menggunakan alat tangkap tidak sesuai aturan.
“Kami sempat menertibkan nelayan dari Sulawesi Selatan yang tidak memiliki izin dan menggunakan alat kompresor. Mereka kami minta kembali ke daerah asalnya,” tegasnya.
Meski pengawasan terus dilakukan, masih terdapat oknum nelayan yang menggunakan alat tangkap merusak, seperti bom dan potassium.
Namun, upaya pengawasan kini semakin diperkuat dengan adanya bantuan peralatan pemantauan terbaru.
“Kami baru saja mendapat bantuan radar pemantau dari Global Konservasi, lengkap dengan kamera foto. Jadi kami bisa mengawasi aktivitas masyarakat yang tidak ramah lingkungan,” pungkasnya. (*)
