BERAU TERKINI – Pengelolaan dana kampung di Kampung Eka Sapta, Kecamatan Talisayan, mendapat sorotan dari warganya sendiri.
Sejumlah kejanggalan dinilai menghambat pembangunan dan menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintah kampung.
Tokoh Pemuda Kampung Eka Sapta, Yosep Chavin Pane Tapun, menilai, pengelolaan dana kampung masih jauh dari prinsip transparansi.
Dia menyoroti ketiadaan papan informasi proyek dan laporan penggunaan anggaran yang bisa diakses publik, sehingga muncul dugaan terjadinya penyelewengan anggaran.
“Desa seharusnya menjadi tempat tumbuhnya kemajuan dan kesejahteraan bagi warga. Tapi di sini justru terbalik. Kampung makin tertinggal, sementara segelintir oknum yang makmur. Ini karena tidak ada keterbukaan,” kata Yosep, Jumat (12/9/2025).
Menurutnya, tanda-tanda dugaan penyalahgunaan kewenangan terlihat dari beberapa proyek kampung. Salah satunya penimbunan jalan usaha tani yang disebut menggunakan alat berat milik pribadi kepala kampung.
“Ini jelas menyalahi aturan. Dalam Permendes Nomor 13 Tahun 2023, kades atau kepala kampung dilarang menjadi pelaksana proyek desa ataupun mengambil keuntungan pribadi,” tegasnya.
Yosep juga menilai, peran Badan Permusyawaratan Kampung (BPK) tidak berjalan maksimal dalam mengawasi kinerja kepala kampung. BPK seharusnya menjadi pengawas sekaligus penyalur aspirasi masyarakat.
“Tapi nyatanya mereka diam saja meski banyak kejanggalan terjadi. Fungsinya jadi mandul,” ujarnya.
Yosep pun menuding kepala kampung sengaja membatasi partisipasi warga kritis.
Menurut Yosep, sejumlah masyarakat yang aktif memberi masukan dalam forum, justru tidak lagi diundang ke rapat-rapat selanjutnya.
“Ini membuktikan kepala kampung takut kenyamanannya terusik. Padahal, musyawarah desa adalah hak semua warga,” tegasnya.
Rifki menegaskan, dana desa adalah amanah yang harus dikelola secara jujur dan terbuka.
“Setiap rupiah dari negara itu untuk rakyat, bukan untuk memperkaya segelintir orang. Pemimpin yang benar-benar bersih tidak akan takut pada keterbukaan. Justru keterbukaan adalah cara membangun kepercayaan,” terangnya.
Dia mengajak masyarakat Kampung Eka Sapta untuk lebih peduli dan berani mengawasi jalannya pembangunan desa.
“Kalau kita diam, desa mudah sekali dikendalikan oleh segelintir orang. Kepedulian kita adalah benteng agar dana desa benar-benar dirasakan manfaatnya. Desa hari ini adalah warisan bagi anak cucu kita,” pungkasnya. (*)
