BERAU TERKINI — Lonjakan harga bahan bakar pesawat (avtur) yang berdampak langsung pada melambungnya harga tiket pesawat domestik mendapat perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Berau.

Kondisi ini dinilai menjadi rapor merah bagi aksesibilitas daerah yang sangat bergantung pada jalur udara.

Bupati Berau, Sri Juniarsih, mengakui, fenomena kenaikan harga tiket ini telah menjadi beban nyata bagi masyarakat. 

Sebagai daerah yang mengandalkan transportasi udara untuk mobilitas keluar masuk wilayah, tingginya tarif penerbangan menjadi persoalan krusial yang harus segera dicarikan jalan keluar.

Bupati Berau, Sri Juniarsih, memberikan sambutan kegiatan pelantikan dan pengambilan sumpah atau janji pejabat JPT Pratama di Balai Mufakat, Selasa (7/4/2026). (Diva/BT)
Bupati Berau, Sri Juniarsih, memberikan sambutan kegiatan pelantikan dan pengambilan sumpah atau janji pejabat JPT Pratama di Balai Mufakat, Selasa (7/4/2026). (Diva/BT)

“Jujur ini sangat membebani masyarakat. Saya juga mendengar harga tiket pesawat melonjak tinggi,” ujar Sri Juniarsih, Selasa (7/4/2026).

Sri Juniarsih menilai, tingginya harga tiket tidak hanya memukul mobilitas warga lokal.

Namun, juga menjadi ancaman serius bagi sektor pariwisata yang merupakan salah satu pilar ekonomi Bumi Batiwakkal. 

Menurutnya, daya saing destinasi wisata di Berau sangat bergantung pada konektivitas yang terjangkau bagi para pelancong.

Jika harga tiket terus bertahan di angka yang tinggi, dikhawatirkan minat wisatawan untuk berkunjung ke Berau akan menurun drastis.

Hal ini tentu akan berdampak domino pada perputaran ekonomi pelaku usaha wisata di daerah.

“Kita ini daerah dengan banyak destinasi wisata. Kalau tiket mahal, tentu akan berdampak pada kunjungan wisatawan,” jelas Bupati perempuan pertama di Berau tersebut.

Merespons keluhan masyarakat dan pelaku usaha, Sri Juniarsih memastikan akan segera mengambil langkah strategis dengan melakukan koordinasi bersama Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur.

Ia berencana menjalin komunikasi langsung dengan Gubernur guna mendiskusikan kemungkinan adanya intervensi atau kebijakan khusus untuk menekan harga avtur di wilayah Kaltim.

Meski menyadari harga avtur dipengaruhi oleh mekanisme pasar global, Sri Juniarsih menegaskan komitmennya untuk tetap berusaha mencari celah solusi di tingkat pemerintahan yang lebih tinggi.

“Nanti saya akan komunikasi dengan provinsi, dengan Pak Gubernur. Siapa tahu bisa ada langkah untuk menekan harga avtur, tapi saya tidak janji, namun tetap berusaha,” tuturnya.

Ia berharap ada sinergi kebijakan antara pusat dan daerah untuk menjaga stabilitas harga tiket.

Tujuannya agar akses transportasi udara tetap inklusif bagi masyarakat umum dan tidak menghambat akselerasi pertumbuhan sektor pariwisata di Kabupaten Berau.

“Harapan kita tentu ada solusi agar harga tiket bisa lebih terjangkau dan tidak menghambat pergerakan masyarakat maupun wisatawan,” pungkasnya. (*)