BERAU TERKINI – Pemerintah Kabupaten Berau berupaya menerapkan pangan yang Beragam, Bergizi Seimbang dan Aman (B2SA) berbasis sumber daya lokal (non beras dan tepung).
Salah satu yang dilakukan adalah menggelar Festival Kuliner Pangan Lokal dalam rangka Memperingati Hari Pangan Sedunia 2025 di Halaman Parkir Batiwakkal, Kamis (6/11/2025).
Lewat Festival Kuliner Pangan Lokal ini, masyarakat bisa memvariasikan pangan dengan kreativitas dan inovasi gizi yang seimbang dan citra rasa tetap dijaga.
Sebagai contoh, sumber karbohidrat sebagai makanan pokoknya bisa diganti dengan ubi, singkong dan bengkoang.
Ketua Festival Kuliner Pangan Lokal, Muhammad Suharni, menjelaskan, acara tersebut digelar pada 6-12 November 2025 pukul 09.00-16.00 WITA.
“Acara ini untuk menyosialisasikan masyarakat terkait pangan lokal di daerah. Juga untuk edukasi masyarakat supaya kita memanfaatkan pangan-pangan lokal,” kata Suharni kepada Berauterkini, Kamis (6/11/2025).
Dia mengatakan acara tersebut juga menjadi sarana promosi agar masyarakat membeli produk lokal.
Selain itu, Festival Kuliner Pangan Lokal juga membantu UMKM dan menjaga kelestarian pangan daerah, mengingat sudah banyaknya pangan luar yang masuk ke Berau.
Dia menyebut, Festival Kuliner Pangan Lokal kali ini adalah pelaksanaan yang ketiga kalinya.
Pedagang yang berjualan pun tidak dipungut biaya dan tinggal membawa barang dagangannya.
“Kami sediakan tempat, langsung berjualan. Pelaksanaannya tujuh hari. Tahun lalu tiga hari, naik lima hari, dan tujuh hari,” ungkapnya.
Suharni menambahkan, dalam Festival Kuliner Pangan Lokal juga ada beberapa lomba, seperti kreasi menu B2SA, lomba mewarnai, dongeng, dan lain-lain.
“Ada acara sisipan, perlombaan konten B2SA untuk pelajar, kemudian lomba melukis, mendongeng, tapi lingkupnya judul pangan B2SA,” jelasnya.
Dia menjelaskan, adanya sisipan lomba juga menjadi salah satu cara mempromosikan UMKM.
Adanya lomba bisa menarik ibu dan anak untuk berpartisipasi, kemudian tertarik untuk membeli produk.
Festival Kuliner Pangan Lokal menyediakan total 60 rombong untuk berjualan, tapi tidak semua makanan bisa diterima oleh penyelenggara.
“Tidak sembarang berjualan, tidak semua masuk ke sini, kita data dulu yang ikut. Banyak yang ikut tapi kami keluarkan yang tidak sesuai standar lokal. Misalkan bakso tidak masuk karena pakai pengawet. Kami usahakan yang produknya aman untuk dikonsumsi,” jelasnya.
Suharni pun paling merekomendasikan Talinga Sagai sebagai salah satu produk lokal yang bisa dikonsumsi untuk mendukung hasil pangan lokal.
Salah satu pedagang, Muhammad Fais, menyebut, produk yang dijual bebas pengawet dan ada varian terbaru, yaitu varian MPASI.
“Kalau dari kami sih yang spesialnya di abon, ada abon cakalang, ikan tuna, ada abon ayam, juga kepiting. Jadi untuk abon ayam, tuna, cakalang kami ada yang tanpa MSG sama sekali,” ujar Fais.
Rumah produksi milik Fais berada di Jalan Murjani III dan sudah beroperasi sejak 2009. Produk lainnya yaitu macam-macam sambal yang sudah dikirim ke banyak supermarket di Berau.
“Sambal ayam ada, kepiting ada juga, tuna, sama cakalang juga ada. Kalau terasi kita kerja sama sistemnya dari kampung juga ambil,” ungkapnya. (*/Adv)
