BERAU TERKINI – Gempa dangkal M 4,8 yang merusak sejumlah bangunan di Tarakan pada 5 November 2025 lalu menjadi pengingat serius bahwa Pulau Kalimantan menyimpan potensi seismik aktif.
Peristiwa ini sekaligus membantah mitos bahwa Kalimantan adalah wilayah yang sepenuhnya bebas gempa. Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menegaskan bahwa sejarah seismik di pulau ini tidak bisa diabaikan, meskipun aktivitasnya lebih rendah dibanding pulau lain.
“Kalimantan bukan wilayah bebas gempa, dan potensi gempa merusak tetap ada, meskipun aktivitas seismiknya lebih rendah dibanding kawasan lain di Indonesia seperti Sumatra, Jawa, atau Sulawesi,” ujar Daryono, melansir laman resmi BMKG, Senin (10/11/2025).
Ia menjelaskan, kawasan Tarakan, Kalimantan Utara, menjadi salah satu wilayah yang memiliki catatan sejarah gempa merusak paling aktif akibat Sesar Tarakan.
Jejak Gempa Dahsyat Tarakan
Data BMKG mencatat, guncangan paling dahsyat yang terekam di wilayah itu terjadi pada 19 April 1923.
“Gempa Tarakan ini dilaporkan memiliki kekuatan M7,0. Dampak guncangannya mencapai skala intensitas VII-VIII MMI. Gempa ini menyebabkan banyak kerusakan bangunan rumah dan rekahan tanah di Tarakan,” jelas Daryono.
Aktivitas Sesar Tarakan juga kembali memicu gempa merusak pada 21 Desember 2015.
“Gempa ini berdampak merusak puluhan rumah warga di Tarakan. Gempa ini diikuti dengan aktivitas gempa susulan mencapai sebanyak 16 kali,” lanjutnya.
Gempa terbaru pada 5 November 2025 yang juga dipicu sesar yang sama, menambah daftar panjang kerusakan di wilayah tersebut.
“(Gempa 2025) menimbulkan dampak kerusakan bangunan di Kampung Empat dan Mamburungan, Tarakan. Sebanyak 2 unit rumah rusak berat, 2 unit rumah rusak sedang, serta 3 pusat perbelanjaan yang terdampak,” kata Daryono.
Bukan Hanya Tarakan
Daryono menambahkan bahwa potensi gempa merusak tidak hanya monopoli Tarakan. Wilayah lain di Kalimantan juga memiliki catatan serupa, termasuk yang memicu tsunami.
“Gempa kuat di Sangkulirang 1921 diikuti terjangan tsunami yang mengakibatkan kerusakan di sepanjang pantai dan muara sungai di Sangkulirang, Kalimantan Timur,” paparnya.
Ia juga mencontohkan gempa di Kalimantan Selatan yang terjadi tahun lalu, yang dampaknya juga sangat signifikan terhadap permukiman warga.
“Di Kabupaten Banjar pada Februari 2024 ratusan rumah dilaporkan rusak, di Banjarmasin sebuah sekolah dasar mengalami kerusakan,” tutup Daryono. (*)
