BERAU TERKINI Dalam beberapa tahun terakhir, target carbon neutral atau net zero emissions menjadi fokus utama kebijakan energi global. Tujuan ini menandai transisi dari sistem energi yang sangat bergantung pada bahan bakar fosil menuju sistem energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.

Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa perjalanan mencapai carbon neutral bukanlah hal yang mudah. Terdapat berbagai tantangan struktural, ekonomi, teknologi, dan sosial yang harus diatasi secara menyeluruh.

Apa Itu Carbon Neutral dalam Sistem Energi?

Carbon neutral berarti emisi gas rumah kaca yang dihasilkan seimbang dengan upaya pengurangan atau penyerapan melalui teknologi, tindakan, atau kompensasi lainnya.

Secara sederhana, apabila energi yang dihasilkan dari pembangkit listrik atau proses industri menghasilkan CO₂, maka harus ada mekanisme untuk mengurangi jumlah gas yang setara agar totalnya netral.

Di sektor energi, pencapaian carbon neutral bukan hanya soal mematikan pembangkit fosil, tetapi juga mengubah cara kita memproduksi, menyimpan, dan mendistribusikan energi agar lebih ramah lingkungan dan rendah karbon.

Tantangan Utama dalam Mewujudkan Carbon Neutral

Ketergantungan Tinggi pada Energi Fosil

Sebagian besar sistem energi global masih bergantung pada batu bara, minyak, dan gas. Infrastruktur fisik untuk energi fosil seperti pembangkit listrik, jaringan pipa, serta fasilitas penyimpanan telah tersedia sejak lama, sehingga transisinya memerlukan waktu dan biaya besar.

Beban Biaya dan Keterbatasan Pembiayaan

Investasi awal dalam teknologi energi terbarukan seperti pembangkit surya atau angin, serta infrastruktur pendukungnya, membutuhkan dana yang tidak sedikit. Negara-negara berkembang sering kali menghadapi keterbatasan untuk mengakses modal hijau (green financing) sehingga proses transisi berjalan lebih lambat.

Kesiapan Teknologi dan Infrastruktur

Meski teknologi energi terbarukan berkembang, beberapa tantangan teknis seperti penyimpanan energi yang efisien, integrasi ke jaringan listrik (grid), serta teknologi penangkapan karbon (carbon capture) masih belum sepenuhnya matang dan membutuhkan penelitian lanjutan serta biaya tinggi.

Kebijakan dan Regulasi yang Belum Konsisten

Transformasi energi membutuhkan kerangka kebijakan yang stabil, transparan, dan berpihak pada dekarbonisasi. Sayangnya, banyak negara masih belum memiliki standar atau implementasi kebijakan yang kuat, terutama terkait harga karbon dan mekanisme pasar karbon yang efektif.

Ketimpangan Global dalam Transisi Energi

Negara maju memiliki kapasitas finansial dan teknologi lebih baik dibandingkan negara berkembang untuk melakukan transformasi energi. Disparitas ini menunjukkan bahwa tanpa dukungan internasional, beberapa negara akan mengalami keterlambatan lebih signifikan dalam mencapai target rendah karbon.

Perubahan Perilaku dan Tantangan Sosial

Perubahan energi juga memerlukan perubahan perilaku masyarakat, mulai dari pola konsumsi energi hingga adopsi teknologi baru. Perubahan seperti ini tidak selalu mudah diterima secara luas, terutama di wilayah yang sudah terbiasa dengan energi fosil murah.

Dampak Tantangan Ini terhadap Industri Energi

Beragam tantangan di atas berdampak langsung pada industri energi global. Perusahaan energi dihadapkan pada tekanan untuk menyeimbangkan antara target iklim dan kebutuhan pasar. Ketidakpastian regulasi, biaya transisi yang tinggi, serta kecepatan inovasi teknologi menjadi faktor yang mempengaruhi arah investasi dan strategi bisnis energi.

Di satu sisi, tantangan tersebut mendorong munculnya inovasi teknologi seperti penyimpanan energi, digitalisasi versi jaringan listrik, dan efisiensi tinggi. Di sisi lain, proses transformasi ini dapat memberikan keuntungan kompetitif bagi perusahaan yang lebih siap dalam menghadapi era energi rendah emisi.

Strategi dan Solusi Menghadapi Tantangan

Untuk mengatasi hambatan tersebut, pendekatan perlu dilakukan secara menyeluruh dan terkoordinasi. Percepatan pengembangan pembangkit energi terbarukan harus dilengkapi dengan modernisasi infrastruktur dan kesiapan jaringan tenaga listrik.

Kebijakan yang jelas dan konsisten, termasuk insentif fiskal serta mekanisme harga karbon yang kredibel, menjadi fondasi penting bagi investor dan pelaku industri.

Selain itu, kolaborasi internasional dapat membantu negara-negara berkembang dalam mendapatkan akses teknologi dan modal untuk transisi energi. Edukasi publik serta keterlibatan sektor swasta dan masyarakat sipil menjadi elemen penting untuk menciptakan perubahan perilaku yang mendukung tujuan carbon neutral.

Perjalanan menuju carbon neutral di sektor energi adalah tantangan besar yang melibatkan berbagai dimensi, mulai dari kebijakan, pembiayaan, teknologi hingga perubahan sosial. Ketergantungan pada energi fosil, keterbatasan teknologi, dan kesenjangan global merupakan hambatan yang nyata dan perlu diatasi secara bersama-sama.

Namun, tantangan ini juga membuka peluang bagi inovasi serta kolaborasi antarnegara dan antar industri untuk membentuk sistem energi yang lebih bersih dan berkelanjutan di masa depan. Perubahan tidak hanya memerlukan teknologi baru, tetapi juga komitmen dari semua pihak.

Sejalan dengan itu, peran bahan bakar transisi seperti LNG (Liquefied Natural Gas) menjadi penting. LNG memiliki jejak karbon yang lebih rendah dibandingkan batu bara dan dapat berfungsi sebagai bridge fuel yang membantu menurunkan emisi sambil mempercepat penetrasi energi terbarukan dalam sistem energi global.

LNG ditengarai dapat mengurangi emisi CO₂ secara signifikan ketika menggantikan bahan bakar fosil high-emission di sektor pembangkit listrik dan industri berat. 

Di Indonesia, PGN LNG Indonesia berperan dalam mendukung transisi energi melalui pengembangan infrastruktur LNG. Perusahaan ini berfokus pada layanan LNG, mulai dari penyimpanan, regasifikasi, hingga penyaluran gas ke berbagai sektor industri dan kelistrikan.

Salah satu infrastruktur yang dikembangkan adalah Floating Storage Regasification Unit (FSRU), yang berfungsi untuk memastikan pasokan gas yang lebih bersih dan stabil.

Sebagai bahan bakar transisi, LNG membantu mengurangi ketergantungan pada batu bara dan minyak bumi. Melalui penyediaan LNG dan layanan pendukungnya, PGN LNG Indonesia berkontribusi dalam menurunkan intensitas emisi sektor energi sekaligus mendukung proses menuju sistem energi yang lebih rendah karbon di Indonesia.