TANJUNG REDEB – Dari dapur rumahnya di Jalan H Isa I, Asriyanti membuktikan bahwa rasa dan kepercayaan pelanggan bisa menjelma jadi kekuatan pemasaran paling mujarab.
Tanpa gerai fisik, tanpa iklan berbayar, ia berhasil mengantarkan Fudgy Brownies kreasinya menjadi salah satu oleh-oleh khas Berau yang paling diburu.
Awalnya, Asri hanya menerima pesanan dari lingkaran terdekat: keluarga dan teman. Namun, testimoni yang tulus dari pelanggan awal itu menjelma menjadi alat promosi yang paling kuat.
“Ternyata saya coba promosikan dan juga melalui testimoni teman maupun keluarga, Fudgy Brownies saya banyak peminatnya,” ujar Asri.
Berbekal brand AsriD’Purple, brownies buatannya kian dikenal. Teksturnya lembut, rasa cokelatnya pekat, dan daya tahannya mencapai seminggu di suhu ruang. Camilan manis ini kini bukan cuma jadi pelengkap kopi atau teh sore hari, tapi juga buah tangan khas dari Bumi Batiwakkal.
Setiap bulan, omset yang dikantongi Asri bisa menyentuh angka Rp10 hingga Rp13 juta. Angka itu bisa melonjak saat momen-momen tertentu, seperti pesanan hampers Lebaran atau kue ulang tahun. Apalagi, di tengah tren bingkisan makanan, Fudgy Brownies miliknya jadi alternatif menarik selain kue kering dan sirup.
“Banyak yang suka dengan hampers Fudgy Brownies, apalagi untuk lebaran atau acara keluarga,” tambahnya.
Asri tak berhenti di satu produk. Ia juga menjajakan bolu, bolu gulung, hingga puding, yang semuanya dibuat di dapur rumah. Perlahan, hasil penjualan ia alokasikan untuk membeli alat produksi yang lebih baik—tanpa mengandalkan pinjaman.
Ia juga aktif mengikuti pelatihan dari Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag) Berau, yang menjadi OPD pembina UMKM. Di sana ia belajar mulai dari teknik pemasaran digital hingga manajemen usaha.
“Hampir setiap ada pelatihan saya ikuti. Terakhir bulan Mei 2025, pelatihan tentang media pemasaran. Dari situ saya jadi lebih paham banyak hal, termasuk pentingnya izin usaha,” katanya.
Kini, seluruh legalitas usahanya sudah lengkap: NIB, PIRT, sertifikasi halal. Bahkan, proses pendaftaran HAKI pun tengah berjalan. Ia mengaku terbantu dengan jejaring antar-UMKM yang memperluas wawasannya dan saling berbagi tips usaha.
Meski begitu, Asri menyadari ada tantangan lain yang belum selesai: keterbatasan permodalan. Menurutnya, kemasan dan peralatan yang lebih layak akan membuka peluang lebih besar bagi UMKM seperti dirinya untuk bersaing secara regional maupun nasional.
“Kalau bisa ada bantuan modal atau pelatihan desain packaging, produk kita bisa tampil lebih percaya diri bersaing dengan yang dari luar daerah,” harapnya. (Adv/Aya)
