BERAU TERKINI – Akses pendidikan menengah atas yang merata masih menjadi pekerjaan rumah di Kabupaten Berau. Menjawab keresahan masyarakat di wilayah pelosok, Anggota DPRD Kalimantan Timur, Syarifatul Sya’diah, menempatkan pembangunan unit sekolah baru sebagai salah satu prioritas utamanya di tahun anggaran 2026.
Legislator yang akrab disapa Sari ini menyoroti ketimpangan fasilitas pendidikan di sejumlah kecamatan, seperti Segah, Kelay, dan wilayah pesisir. Di daerah tersebut, keberadaan Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri masih minim, bahkan nihil.
“Saya akan memperjuangkan penambahan Ruang Kelas Baru (RKB) di sekolah-sekolah yang sudah ada, serta memperjuangkan pembangunan SMA baru di beberapa kecamatan yang selama ini tidak memiliki SMA Negeri. Contohnya di Kecamatan Segah, itu belum punya SMA, yang ada hanya SMK,” ungkap Sari, Jumat (19/12/2025).
Pilihan Sekolah Terbatas
Menurut Sari, ketiadaan SMA Negeri di kecamatan memaksa siswa untuk masuk ke Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang tersedia, meskipun minat mereka mungkin bukan di bidang vokasi. Padahal, aspirasi siswa di pedalaman untuk menempuh pendidikan umum cukup tinggi.
“Banyak siswa baru yang tidak berminat ke SMK karena kejuruan di sana terkonsentrasi ke sektor khusus seperti perkebunan dan pertanian, sementara mereka ingin ke SMA yang lebih umum. Kondisi di Kelay dan Pesisir juga sama, akses ke SMA Negeri masih sangat terbatas,” jelasnya.
Hemat Biaya dan Cegah Kenakalan Remaja
Selain masalah akademis, pembangunan SMA Negeri di kecamatan pelosok dinilai memiliki dampak sosial ekonomi yang signifikan. Orang tua tidak perlu lagi mengeluarkan biaya ekstra untuk menyekolahkan anaknya ke ibukota kabupaten, Tanjung Redeb.
Sari juga menekankan aspek pengawasan. Siswa yang bersekolah di kampung halaman dinilai lebih aman dari pengaruh negatif pergaulan bebas dibandingkan jika harus indekos di kota tanpa pengawasan langsung orang tua.
“Kalau sekolahnya dekat di kampung masing-masing, pertama lebih hemat biaya bagi orang tua. Kedua, bisa mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Kalau di kota, takutnya mereka ugal-ugalan motor atau kurang terpantau, tapi kalau di kampung sendiri, orang tua bisa mengawasi langsung,” pungkasnya.
