BERAU TERKINI – Puasa di bulan Ramadan tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga memberikan pengaruh positif terhadap kesehatan mental.
Psikolog Klinis dan Founder Integra Well-Being Center Berau, Gardhika Rizky Sudarsono, mengatakan, Ramadan menjadi momentum penting untuk memperkuat pengendalian diri.
Menurutnya, salah satu dampak utama puasa adalah meningkatnya kemampuan self control atau kontrol diri.
Proses menahan lapar, haus, dan emosi selama sebulan penuh melatih individu untuk lebih sabar dan mampu mengelola respons terhadap berbagai situasi.
“Dampaknya bagi kesehatan mental itu sangat banyak. Seharusnya setelah bulan Ramadan, self control kita meningkat karena selama puasa kita terbiasa melatih pengendalian diri,” ujarnya kepada Berauterkini, Sabtu (21/2/2026).
Selain itu, Ramadan juga menjadi momen untuk memperkuat koneksi sosial.
Aktivitas sederhana seperti membeli takjil di luar rumah atau berbuka puasa bersama membuka peluang interaksi dengan orang lain.
Ia menjelaskan, pertemuan sosial tersebut berperan penting dalam menjaga kesehatan mental karena membantu seseorang merasa tidak sendirian dan mendapatkan dukungan dari lingkungan sekitar.
“Yang paling penting adalah kita berusaha kembali terkoneksi dengan orang-orang di sekitar. Saat bertemu dan berinteraksi, kita merasa tidak sendiri dan mendapatkan dukungan sosial, itu sangat baik untuk kesehatan mental,” jelasnya.
Gardhika menambahkan, dukungan sosial yang terbangun selama Ramadan dapat meningkatkan rasa kebersamaan, empati, dan kepedulian antarindividu.
Hal ini berdampak pada perasaan lebih tenang, bahagia, dan bermakna dalam menjalani keseharian. (*)
