Catatan: Robithoh Johan Palupi, Pemimpin Redaksi Berauterkini
BERAU TERKINI – Potongan video pendek, seorang bocah yang menari dengan penuh kepercayaan diri, dalam beberapa bulan terakhir acap menghiasi tampilan muka di beragam platform media sosial.
Gerakan sederhana Rayyan Arkan Dikha, bocah kelas 5 SD itu mampu menginspirasi berbagai nama-nama tenar. Atlet-atlet kenamaan menirukannya. Musisi dengan nama besar juga tak ketinggalan. Atau, bagi mereka yang hanya ingin ikut viral. Meniru gaya aura farming. Tarian penanda kemenangan dari seorang Togak Luan kala tumpangannya jadi juara Pacu Jalur.
Pemandangan singkat itu tanpa disadari, ternyata mampu jadi duta budaya. Bukan hanya bagi Kabupaten Kuantan Singingi di Provinsi Riau. Indonesia pun mengakui jika gerakan spontan dari Rayyan bisa membawa pesan gembira dari Nusantara.
Togak Luan adalah posisi terdepan dari satu tim pacu jalur, sebuah perlombaan adu cepat perahu kayu yang digerakkan para pendayung. Pacu Jalur sendiri merupakan kompetisi tradisional yang mempertemukan berbagai perwakilan dari kampung-kampung yang ada di sepanjang aliran Sungai Batang Kuantan. Terkhusus, yang ada di sekitar wilayah yang kini dikenal dengan Tepian Narosa, Teluk Kuantan, Riau. Di tempat itu, tiap tahun kini digelar festival. Dan yang paling ditunggu adalah perlombaan Pacu Jalur.
Mengenal Pacu Jalur, dengan tarian aura farming, juga akan membuat sedikit banyak orang akan meluangkan waktu, di mana Kuantan Singingi?
Kisah sukses dan viral pacu jalur memantik beragam diskusi. Ternyata, kreasi budaya masih mendapatkan tempat bagi khalayak dunia untuk turut memusatkan pandangan. Satu kata yang juga ikut jadi kunci adalah konsistensi. Penyelenggaraan yang terus menerus dikemas dengan sentuhan teknologi dan dipadu dengan nilai tradisi, terbukti bisa dikombinasi.
Kerja keras itulah yang kini mampu mengatrol ketenaran sebuah daerah. Meski, dari sisi umur, masih terbilang sangat muda. Kuantan Singingi, kabupaten pemekaran dari Kabupaten Indragiri Hulu yang ditetapkan pada 199 silam, saat ini bisa berbangga diri. Pada perhelatan Pacu Jalur 2025 yang digelar selama lima hari pada Agustus lalu, mampu menarik minat 1,5 juta pengunjung.
Umur muda sebuah daerah ternyata tidak melulu jadi kendala dalam mengembangkan potensi. Kuansing, nama singkat dari Kuantan Singingi, telah membuktikannya. Lantas, apakah ini bisa ditiru Berau?
Jargon yang kerap digaungkan bahwa Bumi Batiwakkal sedang dalam transisi menuju daerah tujuan wisata, seakan memberi angin sepoi-sepoi. Bahwa daerah ini tidak akan selalu mengandalkan industri yang bersifat ekstraktif dalam menopang ekonomi.
Karunia besar yang dimiliki Berau sejauh ini belum sejalan dengan upaya yang dilakukan. Terbukti, pertambangan masih jadi tulang punggung ekonomi Berau. Lebih kurang 50 persen ekonomi daerah masih didominasi aktivitas penggalian.
Dalam lima tahun terakhir, sektor pertanian, kehutanan dan perikanan hanya berkontribusi sekitar 11-12 persen terhadap PDRB Berau. Sektor pariwisata? Aktivitas ini hanya menyumbang sekitar 5 persen terhadap PDRB Berau.
Memang, membangun pariwisata tidak bisa dilakukan parsial. Secara menyeluruh, gairah ini juga harus dilakukan bersama-sama. Berau, sudah saatnya membuat gerakan yang seragam.
Sri Juniarsih-Gamalis, pada periode kedua memimpin daerah ini, juga dituntut harus mampu merealisasikan janji-janji politiknya. Pariwisata, semoga tidak hanya jadi komoditas yang dirasa cukup selesai dalam pembahasan di ruang diskusi atau rapat dan lobi-lobi.
Bagi saya, yang dipercaya manajemen Berau Terkini menggawangi ruang redaksi, Bumi Batiwakkal selalu menyita ruang yang spesial. Mengenal Berau adalah sebuah keindahan yang tak pernah terkira.
Pekerjaan dan petualangan membawa beragam pengalaman yang akan selalu berpadu dengan romantisme. Semoga, 72 tahun usia Kabupaten Berau dan 215 Kota Tanjung Redeb, akan dihiasi dengan ragam harapan yang terwujud dalam kerja nyata untuk terus bertumbuh. Dan, kita semua akan turut mengawalnya. (*)
