BERAU TERKINI – Sebanyak 389 guru honorer non-database sudah mendapatkan pelunasan gaji melalui Dinas Pendidikan Berau pada bulan ini.

Guru-guru honorer non-database tersebut mendapatkan besaran gaji sekitar Rp3-4 juta per bulan yang terhitung sebagai piutang jasa sejak Juni hingga Oktober lalu.

Kepala Dinas Pendidikan Berau, Mardiatul Idalisah, mengatakan, pembayaran guru honorer non-database dilakukan menggunakan skema Penyedia Jasa Lainnya Perorangan (PJLP).

“Kami terapkan skema itu (PJLP),” kata perempuan yang akrab disapa Lis itu, Kamis (6/11/2025).

Dia menerangkan, pembayaran hak guru tersebut menggunakan anggaran yang dikelola langsung Disdik Berau, meski Rancangan Peraturan Bupati tentang Pedoman Pengadaan dan Pengelolaan Penyedia Jasa Lainnya Perorangan ditolak Pemprov Kaltim.

Menurutnya, pemerintah tetap dapat melakukan pembayaran gaji menggunakan skema PJLP berlandaskan Perpres Nomor 12 Tahun 2021 tentang Perubahan Perpres Nomor 16 Tahun 2018 tentang Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah.

“Jadi tetap berlandaskan aturan dan tidak lagi memerlukan perbup untuk itu,” terangnya.

Dalam skema tersebut, pemerintah bisa kapan saja menyetop kontrak dengan pertimbangan kebutuhan setiap sekolah yang menggunakan jasa guru non-database.

“Ini tergantung dari penilaian ke depan, karena 2026 sudah tidak ada lagi status pegawai yang honorer,” tuturnya.

Tak hanya telah melunasi gaji guru tersebut, pihaknya juga telah menyiapkan anggaran untuk menyelesaikan hak guru hingga Desember mendatang.

Pelunasannya nanti akan dijamak dalam pengeluaran pada November dan Desember.

“Anggarannya sudah kami siapkan, jangan khawatir,” sebutnya.

Lis menambahkan, para guru tersebut juga dapat tambahan dana pendapatan dari Pemprov Kaltim serta Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah senilai Rp800 ribu.

Selain itu, terdapat pula tambahan pendapatan senilai Rp2 juta jika sudah lolos Pendidikan Profesi Guru Dalam Jabatan (PPG Daljab) dan menerima sertifikat dari pemerintah.

“Alhamdulillah ini untuk menyuntik semangat guru dalam mengajar di sekolah,” ungkapnya.

Lis berharap, ke depan para guru dapat kembali bekerja secara maksimal di sekolah, sehingga tak ada anak yang putus sekolah karena menurunnya kualitas pendidikan.

“Kami akan selalu bertanggung jawab atas nasib guru di Berau,” tegasnya. (*)